Tantangan Era AI di Depan Mata, Fotografi Dituntut Jaga Otentisitas Budaya Indonesia
- Istimewa
Medan, tvOnenews.com — Di tengah masifnya arus modernisasi dan kemajuan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), tantangan besar dihadapi para pelaku seni, akademisi, hingga fotografer dalam menjaga otentisitas budaya Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Anggota DPR RI Sofian Tan saat membuka diskusi Pewarta Foto Indonesia (PFI) Kota Medan bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan RI dan DPR RI di Aula PFI Medan, Jalan Setia Budi, Medan, Rabu (22/9/2026).
Kegiatan mengangkat tema “Dalam Satu Bingkai Kebhinekaan, Ketika Fotografi Bercerita Tentang Indonesia”. Acara tersebut turut dihadiri fotografer senior Irsan Mulyadi, Ketua PFI Medan Rizky Cahyadi, anggota PFI Medan, serta mahasiswa.
Sofian Tan menuturkan, Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan kebudayaan.
“Karena dari jumlah suku yang ada, hari ini diperkirakan hasil BPS sekitar 1.340, tetapi oleh Balai Bahasa, jumlah bahasa kita, bahasa nenek kita, sudah mencapai 729,” ujar Sofian Tan.
Menurutnya, keberagaman suku dan bahasa tersebut juga diikuti oleh perbedaan budaya dan kuliner. Dalam konteks tersebut, fotografi memiliki peran sebagai arsip visual kebudayaan yang merekam berbagai sisi kehidupan masyarakat.
“Fotografi itu sebagai arsip visual kebudayaan, arsip visual kebudayaan yang bisa merekam selain adat istiadat, selain baju-baju yang mereka kenakan, termasuklah berbagai aktivitas kehidupan itu,” tambahnya.
Sementara itu, fotografer senior Irsan Mulyadi menyoroti perkembangan teknologi AI yang kini semakin dekat dengan kehidupan masyarakat.
Irsan menjelaskan, teknologi AI bukanlah hal baru karena telah diperkenalkan sejak 1956 dalam Konferensi Dartmouth.
“Artificial Intelligence itu sudah ditemukan di tahun 1956 di Konferensi Dartmouth,” ungkap Irsan.
Ia menjelaskan bahwa masyarakat terbagi menjadi dua kategori, yakni digital native yang lahir bersama teknologi dan digital immigrant yang harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
“Digital immigrant itu adalah orang yang beradaptasi dengan teknologi hari ini, contohnya hari ini mau tidak mau, suka tidak suka, kita ke mana-mana belajar pakai QRIS,” ujar Irsan.
Irsan juga mencontohkan bagaimana musisi asal Sumatra, Restu Purba, memanfaatkan video bertema AI di Instagram untuk bernarasi tentang pahlawan nasional sekaligus mengajak penonton beradaptasi dengan teknologi yang dikaitkan dengan kebudayaan.
Perkembangan AI kini turut bersinggungan dengan dunia fotografi, baik sebagai pembanding maupun penunjang karya.
Namun, esensi otentisitas dan nilai kemanusiaan dalam memotret keberagaman Indonesia tetap menjadi bagian penting dalam merekam dan menceritakan kekayaan budaya melalui fotografi.
Load more