UGM Advokasi Hukum Mahasiswa yang jadi Korban Kekerasan dalam Ricuh Demo di Simpang Gramedia
- Tim tvOne - Sri Cahyani Putri
Akibat kekerasan tersebut, enam mahasiswa terpaksa dilarikan ke RS Panti Rapih guna mendapatkan penanganan medis.
Hal ini lantaran mereka mengalami lebam, memar, sesak napas bahkan trauma. Beruntungnya sekitar pukul 00.30 WIB, seluruh mahasiswa diperbolehkan pulang.
Untuk diketahui, terdapat sejumlah tuntutan yang disorot mahasiswa dalam aksi unjuk rasa ini. Pertama, mengenai penanganan bencana alam di Aceh, Kalimantan dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kemudian menyoroti kebijakan pemerintah terkait pemakaian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk kepentingan seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) maupun Koperasi Desa Merah Putih.
Kebijakan tersebut hanya dirasakan oleh masyarakat kaum-kaum elit dan tidak dirasakan oleh masyarakat menengah ke bawah. Hal ini lantaran anggaran untuk program politik tersebut harus mengorbankan anggaran pendidikan.Â
Selanjutnya, perihal subsidi yang dijanjikan oleh Prabowo-Gibran seperti pendidikan gratis, BBM gratis hingga transportasi publik gratis, semuanya adalah kebohongan.Â
Wakil Rektor UGM Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat dan Alumni, Arie Sujito berharap insiden ini bisa menjadi perhatian bersama dalam menciptakan Yogyakarta bebas dari tindakan kekerasan sekaligus mencerminkan kebebasan ruang berekspresi dalam melihat situasi sosial, ekonomi dan politik.Â
"Kita harus berani untuk mengatakan bahwa Yogya anti teror, Yogya anti kekerasan dan biarkan masyarakat atau mahasiswa itu menyampaikan aspirasinya. Saya yakin bahwa itu bagian dari komitmen dalam merespon situasi terkini," pungkas Arie. (scp/buz)
Â
Load more