Baru Sehari Jualan, Pengusaha Foodtruck di Yogyakarta Ungkap Kena Pungli Parkir Rp2,5Juta/hari Hingga Beri Jatah Makan Preman dan Polisi
- Tim tvOne - Sri Cahyani Putri
Yogyakarta, tvOnenews.com - Pengusaha kuliner di Yogyakarta mengungkap pengalaman pahitnya saat membuka usaha foodtruck di kawasan Alun-alun Kidul (Alkid).Â
Baru sehari berjualan, dia memutuskan tidak lagi melanjutkan usahanya di kawasan Alkid lantaran menjadi korban dugaan praktik pungutan liar (pungli). Sesuai rencana, ia membuka usaha foodtruck Bolosego mulai 16-20 September 2026.
"Baru satu hari, kita sudah tidak mangkal lagi disana (Alkid). Ini sudah menjadi keputusan kita untuk tidak lanjut," kata owner Bolosego melalui akun TikTok @dyahfardisa dikutip Jumat (18/9/2026).Â
Dyah mengungkap, banyak tantangan yang dihadapi ketika membuka usaha foodtruck di kawasan Alkid, mulai dari tantangan birokrasi hingga pungli soal parkir.Â
Disebutkan, tantangan birokrasi yang harus dipenuhi berkaitan dengan pengurusan izin lokasi usaha kepada pihak Keraton Yogyakarta.Â
"Untuk mendapatkan izin, kita menggunakan jalur resmi menggunakan surat ke Keraton dan ditandatangani oleh Gusti Kanjeng Ratu bahwa kita diperbolehkan jualan di Alkid," ucap Dyah.Â
Selain izin, Dyah rupanya juga diminta untuk membayar uang parkir hingga Rp2,5 juta per hari. Jika ia membuka usaha selama lima hari, maka harus membayar sebesar Rp12,5 juta. Namun dari hasil kesepakatan negosiasi, dirinya membayar uang parkir foodtruck sebesar Rp1 juta per hari dengan total Rp5 juta untuk lima hari.Â
Selain pungutan uang parkir, ia juga mengklaim diminta menyediakan jatah makan untuk sejumlah orang.
Menurut pengakuannya, terdapat sekitar 10 orang yang disebut sebagai preman. Ia juga menyebut adanya permintaan jatah makan untuk tiga orang yang disebutnya sebagai anggota polisi.Â
"Kita diminta untuk ngasih makan ke-10 preman atau tukang parkir. Kita juga ditelepon oleh pihak kepolisian, mas ini saya kirimkan 3 polisi untuk kesana tolong dirumat makannya. Kita ngirim makan juga buat polisi," ungkap Dyah
Menurutnya, kondisi tersebut menambah beban biaya operasional usaha. Belum lagi, dirinya juga diminta tambahan biaya untuk kebutuhan listrik.
"Kita ada kebutuhan nyolokin listrik, bikin nasi segala macam, disitu gak dikasih. Katanya, kalau nyolokin listrik ada tambahan biaya lagi. Bolosego tidak mau memfasilitasi pungli," ucap Dyah.Â
Load more