Identitas Massa Penyerang saat Demo di Malioboro Disorot, Kapolda DIY: Itu Preman, Bukan Jaga Warga
- tim tvOne - Sri Cahyani Putri
Â
Sleman, tvOnenews.com - Identitas massa tak dikenal yang terlibat bentrokan dan diduga menyerang peserta aksi unjuk rasa di kawasan Malioboro Yogyakarta pada 28 Oktober 2026 lalu menjadi sorotan. Kapolda DIY, Irjen Pol Langgeng Purnomo menyebut kelompok tersebut diduga merupakan preman, bukan bagian dari kelompok Jaga Warga.
Pernyataan tersebut sekaligus meluruskan kabar yang beredar di masyarakat mengenai keterlibatan kelompok Jaga Warga dalam bentrokan yang terjadi di Malioboro. Dalam insiden ini, 39 warga ikut menjadi korban luka dan sempat dirawat petugas kesehatan yang berjaga di gedung DPRD DIY. Bentrokan ini juga melukai 60 personel Polri dari Polda DIY dan Polresta Yogyakarta. Bahkan, ada anggota Polri yang mengalami luka serius, mulai dari patah tulang hingga cedera robek akibat kekerasan dan terkena lemparan benda tumpul.
Kapolda DIY kemudian menjelaskan mengenai dugaan identitas kelompok yang terlibat penyerangan tersebut. Ia menyebut, ada sejumlah komunitas di kawasan Malioboro yang merupakan pusat wisata ikonik Yogyakarta itu, seperti komunitas andong dan becak. Namun, di kawasan itu pula, terdapat laporan menyangkut aksi premanisme, mulai dari membawa senjata tajam, minuman keras, hingga melakukan tindakan kekerasan, termasuk praktik parkir ilegal.
"Yang di Malioboro (bentrok) itu bukan Jaga Warga, itu preman dan wajib dihukum, dicegah, dan ditanggulangi. Hukum harus hadir untuk ditegakkan," kata Langgeng, Sabtu (7/11/2026).
Menurutnya, kelompok Jaga Warga merupakan bagian dari wujud kearifan lokal. Hal ini serupa dengan keberadaan pecalang di Bali. Mereka memiliki ketugasan yaitu mendukung kepala desa dalam pengamanan di wilayahnya masing-masing.
"Dari aspek geografis, Jaga Warga ini di bawah komando kepala desa untuk menjaga desanya. Dari apa? Kalau ada bencana alam, (Jaga Warga) gotong-royong untuk menolong. Kalau ada tetangganya punya gawe (hajat) kemudian membantu untuk keamanannya. Kalau ada masalah-masalah dirembug kemudian dipecahkan," terang Langgeng.
Dalam kelompok Jaga Warga, lanjutnya, juga melibatkan Babinsa dan Bhabinkamtibmas yang akan berkolaborasi dengan tokoh masyarakat setempat.
"Jadi harus dibedakan Jaga Warga adalah lembaga di bawah komando kepala desa untuk membantu bagaimana desanya hidup, tumbuh dan berkembang, serta terbebas dari gangguan," pungkas Langgeng. (Scp/Ard)
Load more