Gen Z Digenjot Masuk Gig Economy, Pemerintah Siapkan Mesin Baru Ekonomi Digital
- Kemenko Perekonomian
Jakarta, tvOnenews.com - Industri kreatif digital saat ini kian menggeliat dan digadang sebagai pilar baru perekonomian nasional.
Berbagai subsektor seperti konten digital, gim, animasi, desain, hingga platform ekonomi kreatif berbasis teknologi tumbuh cepat dan memberi kontribusi signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja, peningkatan nilai tambah, serta daya saing nasional.
Di tengah arus global, transformasi digital kini menjadi kebutuhan yang mengubah pola kerja, proses kreatif, dan interaksi dalam ekosistem ekonomi dunia.
Kemajuan teknologi digital dan kecerdasan buatan membuka peluang lahirnya inovasi, model bisnis baru, serta ekosistem ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Generasi muda, khususnya Gen Z yang sejak awal akrab dengan teknologi dinilai memiliki keunggulan adaptif untuk menjadi penggerak utama perubahan tersebut. Dengan penguasaan teknologi digital, generasi muda berpeluang menjadi motor New Economy Engine yang menopang pertumbuhan ekonomi masa depan.
Hal itu disampaikan Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ali Murtopo Simbolon saat membuka Pelatihan Gig Economy bagi Gen Z di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (15/1).
“Jadi digital ini adalah sektor pertumbuhan yang saat ini kita bisa jalan bersama. Jadi Pak Menko Airlangga itu sudah merancang tiga sumber pertumbuhan yang dapat dan sudah terbukti melewati pertumbuhan konvensional," ujarnya, dikutip Sabtu (17/1/2026).
"Sektor digital, khususnya di AI nanti itu, bisa menyumbang pertumbuhan sampai 20% untuk suatu kemajuan perekonomian,” jelasnya.
Kememnko Perekonomian mencatat, Indonesia saat ini berada dalam fase bonus demografi dengan jumlah Gen Z lebih dari 74 juta jiwa yang mendominasi usia produktif.
Namun, potensi besar tersebut dihadapkan pada tantangan keterbatasan lapangan kerja formal, kesenjangan kompetensi dengan kebutuhan industri, serta percepatan teknologi yang menuntut keahlian baru.
Kondisi ini mendorong perlunya strategi inovatif agar potensi Gen Z dapat dimanfaatkan secara produktif dan berkelanjutan.
Untuk memperluas kesempatan kerja dan memperkuat pertumbuhan ekonomi, pemerintah telah menyiapkan Paket Kebijakan Ekonomi 2025 yang mengakselerasi empat program hingga 2026, serta lima program penyerapan tenaga kerja.
Salah satu fokus utamanya adalah penguatan ekosistem gig economy yang menyasar Gen Z. Program ini telah diawali dengan proyek percontohan di DKI Jakarta pada 18 Desember 2025, bertepatan dengan soft launching AI Open Innovation Challenge yang dijadwalkan meluncur pada pertengahan Februari 2026.
“Ini sudah semakin modern, semakin virtual juga bisa kita lakukan nanti. Jadi dengan adanya model-model gig seperti ini, harapan kita ini akan ditargetkan di 15 kota. Kita targetkan sebanyak 3 ribu peserta dalam 1 bulan, sementara kalau tadi 300 peserta dalam satu term,” ungkap Deputi Ali.
Pelatihan Gig Economy untuk Gen Z di DIY digelar selama tiga hari. Hari pertama diisi dengan talkshow bertajuk “Gig Economy untuk Gen Z: Peluang dan Tantangan” serta sesi pelatihan awal. Pada kesempatan tersebut, Deputi Ali juga meninjau langsung kelas-kelas pelatihan dan berdialog singkat dengan para peserta. Program pelatihan berlanjut pada hari kedua dan ketiga, masing-masing pada 16 dan 17 Januari.
Agenda ini dinilai strategis karena tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga sarana menjaring dan memetakan talenta potensial serta ide-ide kreatif yang dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai modal ekonomi digital nasional.
“Saat ini, untuk smart factory maupun smart estate, semuanya butuh AI untuk bisa bersaing lebih cepat. Namun, pesan dari Pak Menko beda bahwa AI ini bukan malah tidak membutuhkan tenaga kerja, karena dasar dari AI adalah struktur data. Nah, struktur data itu dikerjakan oleh kita-kita, karena hal itu yang diolah menjadi solusi dari AI tersebut. Nanti juga akan dibuat di seluruh kota AI Open Challenge Competition, yang akan menjadi wadah menjaring seluruh ide dari adik-adik ini atau sebagai idea pool. Juga nanti yang memberikan ide tentu ada talent, jadi juga kita ada talent pool,” tutup Deputi Ali. (rpi)
Load more