Harga Saham BUMI Tertekan Tajam hingga Investor Asing Lepas Hampir 1 Miliar Saham, Apa Penyebabnya?
- Antara
Dalam kondisi seperti ini, saham berkapitalisasi besar dengan likuiditas tinggi seperti saham BUMI kerap menjadi sasaran aksi profit taking maupun cut loss. Volume perdagangan yang sangat besar pada saham BUMI menunjukkan adanya pergeseran kepemilikan yang signifikan.
Meski demikian, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari manajemen terkait penyebab spesifik pelemahan saham BUMI. Pelaku pasar pun masih mencermati apakah tekanan ini bersifat sementara atau berpotensi berlanjut dalam jangka menengah.
Level Teknikal Saham BUMI
Dari sisi teknikal, analis Kiwoom Sekuritas mematok level support pertama saham BUMI di area 338 dan support kedua di 317. Sementara itu, level stop loss berada di bawah 312.
Artinya, jika saham BUMI gagal bertahan di atas area support tersebut, potensi tekanan lanjutan masih terbuka. Sebaliknya, jika terjadi rebound teknikal, area 338–350 akan menjadi zona krusial untuk menguji kekuatan pembeli.
Berikut level teknikal utama saham BUMI menurut analis:
-
Support 1: 338
-
Support 2: 317
-
Stop loss: Di bawah 312
Pergerakan saham BUMI ke depan akan sangat bergantung pada apakah tekanan jual asing mulai mereda atau justru berlanjut.
Inikah Dalang Ambruknya Saham BUMI?
Berdasarkan data perdagangan, aksi jual investor asing menjadi faktor dominan di balik anjloknya saham BUMI. Net sell harian mendekati Rp500 miliar dan akumulasi mingguan mencapai Rp1,3 triliun menunjukkan adanya arus keluar modal yang signifikan dari saham ini.
Namun, pelaku pasar juga menilai tekanan terhadap saham BUMI tidak berdiri sendiri. Kondisi pasar global, volatilitas harga komoditas, serta sentimen risk-off turut memengaruhi minat investor terhadap saham sektor energi, termasuk saham BUMI.
Untuk saat ini, investor disarankan mencermati pergerakan volume dan aliran dana asing sebelum mengambil keputusan lanjutan pada saham BUMI. Selama tekanan jual masih mendominasi, pergerakan harga diperkirakan tetap fluktuatif dengan kecenderungan melemah.
Ambruknya saham BUMI dalam beberapa hari terakhir pun menjadi pengingat bahwa likuiditas tinggi tidak selalu menjamin stabilitas harga, terutama ketika arus keluar dana asing terjadi secara masif dan berkelanjutan. (nsp)
Load more