Anindya Bakrie Ungkap Ancaman dan Peluang Transisi Energi: Menuju Net Zero Kita Butuh 100 Gigawatt Daya
- tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar
Anindya juga menempatkan transisi energi dalam kerangka geopolitik global. Ia menilai isu energi bersih kini menjadi ajang persaingan pengaruh antara negara-negara adidaya.
“Dan terakhir, dari sisi geopolitik, menurut saya ini adalah geopolitik dalam bentuk terbaiknya,” kata Anindya.
Ia mengungkapkan bahwa dalam berbagai forum internasional, seperti Davos, APEC, hingga G20, arah kepemimpinan global dalam transisi energi semakin terlihat jelas.
“Ketika Anda pergi ke forum internasional, entah itu Davos, entah itu dalam bilateral seperti APEC atau G20, Anda sudah bisa merasakan dari dua negara adidaya, negara adidaya mana yang benar-benar banyak bicara tentang transisi energi ini,” ujarnya.
Anindya menilai saat ini Tiongkok tampil lebih dominan dalam narasi dan implementasi transisi energi dibandingkan Amerika Serikat.
“Dan tentu saja dalam hal ini, di antara AS dan Tiongkok, saat ini adalah Tiongkok,” tegasnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya strategi Indonesia dalam memainkan peran geopolitik energi secara cermat, termasuk membuka kolaborasi pendanaan dari kawasan Timur Tengah.
“Jadi Indonesia harus berpikir sangat hati-hati bagaimana memainkan permainan ini, sementara di saat yang sama melibatkan orang-orang dari Timur Tengah untuk mendukung kita, misalnya dalam hal pendanaan,” ujarnya.
Di tengah besarnya kebutuhan investasi, Anindya menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif pemerintah dan Presiden Prabowo Subianto melalui pembentukan Danantara, yang dinilainya krusial untuk menarik investor global.
“Nah, hal ini pada akhirnya ingin saya katakan, saya sangat mendukung inisiatif dari pemerintah dan Presiden dengan Danantara, karena inisiatif ini benar-benar menarik masuk (crowd in) para investor,” kata Anindya.
Ia menegaskan bahwa skema tersebut penting untuk menekan risiko investasi di sektor energi, mengingat kebutuhan pendanaan yang sangat besar.
“Dan setidaknya ini adalah cara untuk mengurangi risiko (de-risk) bagi banyak investor yang masuk karena kita butuh banyak uang,” pungkasnya.
Anindya menegaskan bahwa transisi energi bukan hanya agenda lingkungan, melainkan medan pertarungan ekonomi, teknologi, dan geopolitik yang akan menentukan posisi Indonesia dalam peta kekuatan global ke depan. (agr/rpi)
Load more