Moody’s Sorot Ketidakpastian Regulasi, Kadin Sebut 'Wake-Up Call': Kesempatan Reformasi Pasar Modal
- tvOnenews/Abdul Gani Siregar
Jakarta, tvOnenews.com — Sorotan lembaga pemeringkat internasional terhadap kebijakan ekonomi Indonesia memicu respons dunia usaha. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, menilai penilaian negatif terhadap prospek korporasi Indonesia justru harus menjadi momentum reformasi pasar modal nasional.
Komentar itu muncul setelah Moody’s Ratings merevisi outlook menjadi Negatif dari Stabil terhadap tujuh korporasi non-keuangan Indonesia, menyusul perubahan outlook Pemerintah Indonesia.
Meski peringkat utang negara tetap di level Baa2, Moody’s menilai terdapat masalah pada prediktabilitas kebijakan dan komunikasi pemerintah yang berpotensi memengaruhi stabilitas sistem keuangan.
Menanggapi isu ketidakpastian regulasi yang sempat dikaitkan dengan tekanan di pasar saham Indonesia, Anindya menegaskan fondasi ekonomi nasional masih kuat, namun pasar modal memang menghadapi tantangan struktural.
“Pertama-tama pasar modal itu adalah fundamental tapi juga melihat ke depan. Nah, kita melihat secara fundamental Indonesia kan tumbuh selama 30 tahun 5 persen, inflasinya juga 2,5 persen jadi baik lah,” ujarnya di ABAC Meeting, Shangri-La Jakarta, Sabtu (7/2/2026).
“Nah, yang sekarang ini banyak dipertanyakan ialah transparansinya dan juga likuiditasnya dan kedalaman dari pasar modal. Nah, inilah yang kita rasa Indonesia mempunyai kesempatan atau bahasa saya wake-up call atau kesempatan untuk mereformasi tapi bisa jadi katalis untuk Indonesia yang lebih baik,” sambung dia.
Moody’s sendiri menilai perubahan outlook dipicu menurunnya koherensi proses perumusan kebijakan serta komunikasi kebijakan yang dinilai kurang efektif dalam setahun terakhir. Jika berlanjut, kondisi itu berisiko menggerus kredibilitas kebijakan yang selama ini menopang stabilitas makroekonomi dan fiskal.
Sejumlah perusahaan besar ikut terdampak revisi outlook tersebut. PT Telekomunikasi Indonesia Tbk dan Telkomsel masih berada satu tingkat di atas sovereign pada level Baa1, sementara Pertamina, Pertamina Hulu Energi, dan MIND ID berada di level yang sama dengan negara. Sektor swasta seperti Indofood CBP dan United Tractors juga mengalami perubahan outlook menjadi Negatif meski peringkat dipertahankan.
Anindya melihat momentum ini tidak semata soal persepsi investor global, tetapi kesempatan memperkuat struktur pasar keuangan domestik.
Load more