Gandeng Korea Selatan, Indonesia akan Bangun Pusat Pelatihan Siber Nasional untuk Perkuat Pertahanan Digital
- Ist
Jakarta, tvOnenews.com - Kerja sama internasional dinilai semakin krusial dalam memperkuat kapasitas sumber daya manusia (SDM) keamanan siber Indonesia. Di tengah laju transformasi digital yang kian cepat, ancaman siber berkembang semakin kompleks dan menuntut kesiapan nasional yang lebih matang.
Penguatan SDM menjadi strategi utama untuk memastikan Indonesia mampu menghadapi berbagai potensi serangan digital. Karena itu, kolaborasi lintas negara terus digencarkan melalui beragam program pengembangan kompetensi guna membangun ekosistem keamanan siber yang kokoh dan berkelanjutan.
Salah satu inisiatif tersebut diwujudkan melalui program pelatihan yang melibatkan para pemangku kebijakan dan institusi terkait. Program ini diarahkan untuk menyelaraskan visi pembangunan sistem pendidikan dan pelatihan keamanan siber di tingkat nasional.
STEALIEN, perusahaan yang bergerak di bidang keamanan siber, mengumumkan telah menuntaskan program pelatihan undangan bagi pejabat tinggi Indonesia. Kegiatan ini merupakan bagian dari proyek “Penguatan Kapasitas Pengembangan Tenaga Profesional Keamanan Siber Indonesia” yang diselenggarakan oleh Korea International Cooperation Agency (KOICA).
Pelatihan tersebut menyasar pengambil kebijakan senior yang memiliki tanggung jawab dalam perumusan kebijakan pengembangan SDM keamanan siber nasional.
Tujuannya adalah untuk membangun kesamaan persepsi mengenai arah sistem pendidikan dan pelatihan, sekaligus memastikan kebijakan dapat diimplementasikan secara berkesinambungan.
Program ini dilaksanakan menjelang pendirian Cybersecurity Skills & Vocational Center (CSVC) yang ditargetkan mulai beroperasi awal 2027.
CSVC akan menjadi pusat pelatihan keamanan siber yang didukung KOICA dan berperan sebagai institusi utama dalam pengembangan tenaga profesional serta pelatihan praktis di tingkat nasional. Fasilitas tersebut akan dibangun di lingkungan Politeknik Siber dan Sandi Negara (PSSN), lembaga di bawah Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).
Pelatihan berlangsung selama 10 hari, pada 3–12 Februari 2026, dan diikuti 10 pejabat tinggi dari sejumlah lembaga terkait, antara lain BSSN, Badan Intelijen Negara (BIN), satuan siber Tentara Nasional Indonesia (TNI), serta Pusat Siber Militer.
Selama kegiatan, peserta mendapatkan materi mengenai tren keamanan siber global, sistem respons nasional, serta praktik terbaik dalam pengelolaan kurikulum dan pengembangan profesional keamanan siber. Sejumlah pakar turut hadir sebagai pembicara, termasuk Yoon Oh-jun, mantan Wakil Direktur ke-3 Badan Intelijen Nasional Korea dan Penasihat Senior Yulchon Law Firm; Shin Yong-seok, mantan Sekretaris Keamanan Siber Kantor Keamanan Nasional sekaligus CISO Toss Payments; serta Lee Seok-won, Kepala Kantor Kerja Sama Internasional Universitas Ajou.
Load more