Komitmen Hijau Singapore Airlines Demi Nol Emisi 2050, Bangun Rantai Pasok SAF hingga Jamin Transparansi Pelaporan
- Dok. Singapore Airlines
Jakarta, tvOnenews.com - Industri penerbangan global sedang berlomba-lomba menegaskan komitmennya terhadap keberlanjutan. Menyongsong target untuk turut menekan emisi karbon dunia, Singapore Airlines (SIA) membeberkan langkah konkret mereka melalui pengembangan ekosistem bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Merujuk pada SIA Sustainability Report FY2024/25, Singapore Airlines menegaskan bahwa SAF menjadi salah satu pilar utama dalam strategi dekarbonisasi jangka panjang mereka.
“SIA Group berkomitmen untuk mengadopsi Sustainable Aviation Fuel (SAF) dan mendukung pengembangannya secara komersial di seluruh jaringan penerbangan globalnya. Sebagai bagian dari upaya ini, SIA Group bekerja sama erat dengan berbagai mitra dalam ekosistem industri untuk membangun rantai pasok SAF yang terintegrasi di Bandara Changi Singapura,” ujar Manajemen SIA Group dalam laporannya, dilansir Selasa (10/3/2026)
Sebagai 'Komitmen Hijau', maskapai penerbangan asal Singapura ini menargetkan penggunaan SAF mencapai 5 persen dari total konsumsi bahan bakar jet pada 2030.
Target tersebut dipandang sebagai langkah awal menuju tujuan yang lebih besar, yakni mencapai nol emisi karbon bersih pada 2050.
“Untuk mencapai tujuan tersebut, SIA terus berkolaborasi dengan para mitra ekosistem guna mengembangkan rantai pasok SAF yang terintegrasi di Bandara Changi Singapura.”
Kolaborasi Bangun Rantai Pasok SAF
Untuk mempercepat ketersediaan bahan bakar ramah lingkungan, SIA juga memperluas kemitraan dengan pelaku industri energi.
Pada Februari 2025 lalu, SIA Group menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Aether Fuels guna mendukung pengembangan teknologi produksi SAF generasi baru.
Kerja sama ini mencakup pengembangan jalur produksi SAF yang memanfaatkan limbah karbon sebagai bahan baku.
Teknologi tersebut ditargetkan mampu menekan emisi gas rumah kaca hingga sedikitnya 75 persen dibandingkan bahan bakar jet konvensional.
Kolaborasi dua entitas bisnis itu juga diarahkan untuk memperkuat ekosistem produksi SAF di Asia Tenggara agar kebutuhan bahan bakar berkelanjutan bagi jaringan penerbangan regional, termasuk maskapai berbiaya rendah Scoot, dapat dipenuhi secara lebih mandiri.
Selain membangun rantai pasok, SIA juga aktif mengedukasi pemangku kepentingan mengenai peran SAF dalam transisi energi di sektor penerbangan.
Load more