Saat Geopolitik Memanas, Kadin Tegaskan China Jadi Mitra Strategis Jangka Panjang untuk Mensiasati Rantai Pasok
- tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar
Jakarta, tvOnenews.com – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Anindya Bakrie menegaskan, posisi China sebagai mitra utama Indonesia di tengah gejolak geopolitik global.
Dalam forum The 4th China International Supply Chain Expo Roadshow di Jakarta Selatan, Selasa (21/4/2026), ia membeberkan besarnya nilai kerja sama bilateral yang kini menjadi fondasi penting stabilitas ekonomi nasional.
“Tentu kalau bicara perdagangan bilateral kita, ya mitra utama dari seluruh mitra-mitra kita yang ada adalah China. Dengan US$154 miliar bilateral dicapai 2025, dan investasi US$5 miliar di 2025,” tuturnya.
Di tengah konflik yang memanas di Timur Tengah dan ancaman disrupsi rantai pasok global, Anindya menilai hubungan Indonesia–China justru semakin strategis. Menurutnya, kondisi krisis membuka peluang baru untuk memperkuat kolaborasi jangka panjang.
“Nah, apalagi sekarang di zaman perang di Timur Tengah, ya kita mesti mencari jalan untuk meningkatkan semua ini, karena Indonesia ingin menjadi mitra strategis jangka panjang dengan China, dan terutama untuk mensiasati disrupsi daripada supply chain atau rantai daripada pasok yang ada,” kata dia.
Ia menekankan bahwa kekuatan hubungan kedua negara tidak hanya terletak pada kerja sama antar pemerintah (G2G), tetapi juga semakin kuat di level bisnis (B2B), bahkan mulai menjangkau daerah.
“Dan menariknya dengan China, selain hubungan G2G-nya bagus, B2B-nya bagus baik yang di perusahaan besar, terutama di investasi dan hilirisasi, saya sudah mulai turun sampai ke level provinsi atau daerah,” jelas Anindya.
Tak hanya itu, hubungan antar masyarakat juga dinilai menjadi faktor penguat yang signifikan. Arus wisatawan dan keberadaan diaspora menjadi jembatan sosial yang memperkokoh relasi kedua negara.
“Dan ini terlihat juga people to people relationship-nya sangat bagus, 1,3 juta wisatawan Tiongkok berkunjung ke Indonesia,” ungkapnya.
“Dan Indonesia juga mempunyai komunitas yang besar di Tiongkok, ada 11 juta orang yang menjadi jembatan penting dalam hubungan kedua negara ini,” lanjut dia.
Dalam pandangannya, tekanan global justru menjadi katalisator bagi hubungan bilateral untuk berkembang lebih kuat. Ia menilai sejarah telah menunjukkan bahwa setiap krisis justru melahirkan ketahanan baru bagi Indonesia.
Load more