Mendag Sebut Harga Minyakita Naik Bukan Akibat B50, Sebut Alasannya Karena Ini
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com - Menteri Perdagangan (Menndag) Budi Santoso menyebut bahwa rencana penyesuaian Harga Eceran Tertinggi (HET) Minyakita tidak ada kaitannya dengan kebijakan biodiesel B50.
Ia menjelaskan, rencana penyesuaian harga minyak goreng rakyat tersebut sepenuhnya dipengaruhi oleh kenaikan harga bahan baku crude palm oil (CPO) serta meningkatnya biaya produksi yang berdampak pada perhitungan keekonomian minyak goreng rakyat.
Selain itu, langkah penyesuaian juga dipertimbangkan karena HET Minyakita belum mengalami perubahan sejak 2024.
“Ini kan faktor karena harga CPO naik, biaya produksi naik. Jadi kami kan harus menyesuaikan semua,” katanya, Minggu (5/2/2026).
Lebih lanjut, Budi menyebut pemerintah masih membahas skema penyesuaian tersebut.
“Lagi kita bahas sekarang,” kata Budi.
Di sisi lain, ia memastikan harga dan pasokan Minyakita secara nasional tetap stabil.
Saat ini, harga Minyakita berada di kisaran Rp15.800 per liter, bahkan lebih rendah dibandingkan sebelumnya.
“Padahal sebelumnya Rp15.900-an, berarti malah bagus,” ungkapnya.
Meski begitu, ia mengakui masih ada sejumlah daerah yang mencatat harga lebih tinggi, seperti di Papua, akibat kendala distribusi.
“Memang ada daerah tertentu yang agak mahal misalnya kayak di Papua. Karena faktor distribusi. Nah kami sudah minta ke Bulog untuk mendistribusikan ke Papua,” jelasnya.
Dari sisi pasokan, pemerintah memastikan ketersediaan Minyakita tetap aman di seluruh wilayah.
“Gak ada masalah pasokan,” pungkasnya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengumumkan pemerintah akan menerapkan kebijakan biodiesel B50, yakni campuran 50 persen minyak kelapa sawit ke dalam solar, sebagai upaya menekan subsidi hingga Rp48 triliun.
“Sebagai bagian dari upaya kemandirian energi dan efisiensi energi, pemerintah menerapkan kebijakan B50. Ini mulai berlaku 1 Juli 2026,” ujar Airlangga dalam konferensi pers terkait respons pemerintah terhadap dinamika geopolitik global yang disiarkan daring dari Jakarta, Selasa (31/3).
Penegasan ini sekaligus memperjelas bahwa kebijakan energi dan penyesuaian harga minyak goreng berjalan pada jalur kebijakan yang berbeda, meski sama-sama berkaitan dengan komoditas kelapa sawit. (ant/rpi)
Load more