Rupiah Terpukul Lagi ke Level Terburuk Baru, Kini Nyaris Sentuh Rp17.400 per Dolar AS
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com - Nilai tukar rupiah kembali melemah pada awal perdagangan pekan ini, Senin (4/5/2026). Posisi mata uang rupiah melorot ke rekor baru mendekati Rp17.400 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pada penutupan perdagangan sore ini, rupiah tercatat turun 57 poin ke posisi Rp17.394 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.353. Sepanjang sesi perdagangan, pelemahan rupiah bahkan sempat menyentuh 60 poin.
Sementara itu, saat pembukaan perdagangan pagi, rupiah sudah lebih dulu tertekan 4 poin atau sekitar 0,02 persen ke level Rp17.341 per dolar AS.
Kinerja surplus perdagangan RI yang mencapai level tertinggi dalam enam bulan terakhir pun belum mampu menahan tekanan terhadap rupiah.
Berdasarkan data BPS, neraca perdagangan Indonesia memang mencatat surplus sebesar 3,32 miliar dolar AS pada Maret 2026.
Capaian ini sebenarnya memperpanjang tren surplus menjadi 71 bulan berturut-turut, dengan kontribusi terbesar berasal dari ekspor nonmigas, khususnya sektor industri pengolahan.
Meski surplus meningkat, nilai ekspor Indonesia pada Maret 2026 justru turun 3,1 persen menjadi 22,53 miliar dolar AS dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pelemahan rupiah membuat harga barang ekspor Indonesia relatif lebih murah dalam denominasi dolar AS.
Di sisi lain, impor tercatat meningkat 1,51 persen menjadi 19,20 miliar dolar AS dibandingkan Maret 2025. Total nilai impor Indonesia pada Januari-Maret 2026 mencapai 61,30 miliar dolar AS atau meningkat 10,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Tekanan terhadap rupiah juga sejalan dengan pergerakan mata uang di kawasan Asia yang mayoritas melemah terhadap dolar AS.
Baht Thailand turun 0,44 persen, Peso Filipina melemah 0,19 persen, dan Rupee India terkoreksi 0,17 persen. Sementara itu, Dolar Singapura turun 0,13 persen.
Sebagian mata uang Asia lainnya justru menguat terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia naik 0,38 persen, diikuti Dolar Taiwan yang menguat 0,09 persen.
Selain itu, Won Korea Selatan naik 0,05 persen, Yen Jepang menguat 0,02 persen, serta Dolar Hong Kong juga menguat 0,02 persen.
Di pasar global, indeks dolar AS yang mencerminkan pergerakan mata uang Negeri Paman Sam terhadap sejumlah mata uang utama dunia tercatat naik 0,09 persen ke level 98,25.
Konflik Rusia-Ukraina hingga Timur Tengah Masih Jadi Pemicu
Mengutip Antara, tekanan terhadap rupiah dinilai masih berasal dari faktor eksternal, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di Eropa Timur dan Timur Tengah. Kondisi ini turut memicu kenaikan harga minyak dunia yang berdampak pada pergerakan mata uang global.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebut pelemahan rupiah dipengaruhi oleh eskalasi konflik antara Ukraina dan Rusia, khususnya serangan terhadap fasilitas energi.
“Yang menyebabkan rupiah melemah ini masih dari eksternal, dimana di Eropa Timur, Ukraina terus melakukan penyerangan terhadap wilayah-wilayah minyak di Rusia dan kita lihat bahwa kilang-kilang minyak di Rusia banyak yang terkena drone dari Ukraina,” ucapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta.
Berdasarkan laporan Xinhua, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan serangan terhadap infrastruktur minyak Rusia berpotensi mendorong kenaikan harga minyak global.
Berkurangnya pasokan minyak dari Rusia ke pasar internasional dinilai akan memperbesar tekanan kenaikan harga energi dunia.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan sistem pertahanan udaranya berhasil menjatuhkan 740 drone Ukraina di garis depan dalam kurun 24 jam hingga Minggu (3/5).
“Jadi, Ukraina rupanya lebih banyak lagi mengirim drone-drone secara jarak jauh yang mengakibatkan kondisi di wilayah Rusia, terutama adalah kilang-kilang minyak ini mengalami kebakaran yang cukup dahsyat. Ini yang membuat harga minyak mengalami kenaikan,” ungkap Ibrahim.
Selain konflik di Eropa Timur, sentimen geopolitik di kawasan Timur Tengah juga turut memengaruhi pasar. Pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai rencana pengawalan kapal asing keluar dari Selat Hormuz dinilai menambah ketegangan.
Langkah tersebut disebut sebagai upaya kemanusiaan bagi negara-negara yang terdampak konflik. Namun, di sisi lain, Iran disebut siap menghadapi konflik jangka panjang, sehingga memperbesar risiko eskalasi di kawasan tersebut.
Ibrahim menambahkan, lonjakan harga minyak mentah berpotensi meningkatkan inflasi global. Kondisi ini dapat mendorong bank sentral untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
“Di sisi lain pun juga kenaikan harga minyak mentah ini berdampak terhadap inflasi yang tinggi, sehingga bank sentral dalam pertemuan di bulan Mei ini kemungkinan besar kalau seandainya harga minyak masih tetap di atas 100, kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga. Ini yang membuat dolar kembali mengalami penguatan,” ujar dia. (rpi)
Load more