Rupiah Terjun Bebas Lagi ke Rp17.424 per Dolar AS, Pemerintah Siapkan Langkah Darurat
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali terjun bebas pada penutupan perdagangan Selasa (5/5/2026), melanjutkan tren penurunan yang terjadi sebelumnya.
Mata uang Garuda terkoreksi 30 poin atau sekitar 0,17% ke posisi Rp17.424 per dolar AS. Angka pelemahan ini kembali mencatatkan level terendah rupiah sepanjang sejarah.
Apa Langkah Strategis Pemerintah?
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut bahwa sejumlah langkah darurat telah disiapkan pemerintah untuk menjaga stabilitas kurs di tengah tekanan global yang meningkat.
Menurut Airlangga, upaya tersebut mencakup penguatan kerja sama pertukaran mata uang antarnegara (currency swap) serta diversifikasi sumber pembiayaan negara.
“Kita sudah mempersiapkan dengan Bank Indonesia terkait swap currency dengan China, Jepang, Korea, dan negara lain,” kata Airlangga di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta.
Ia menambahkan, pemerintah juga merancang strategi penerbitan surat berharga dalam berbagai denominasi mata uang asing.
Kebijakan ini, lanjutnya, ditujukan untuk memperkuat likuiditas sekaligus menjaga kestabilan nilai tukar rupiah.
“Ke depan kita juga akan terus mempersiapkan komposisi terkait dengan tingkat hutang yang kita bisa, surat berharga yang kita bisa terbitkan yang sifatnya seperti dari China, ataupun dari Yen (Jepang) itu untuk menjaga tekanan terhadap dolar AS,” ujarnya.
Airlangga menilai tekanan terhadap rupiah bukan fenomena domestik semata, melainkan juga dialami berbagai negara lain yang menghadapi penguatan dolar AS.
“Berbagai negara memang mengalami pelemahan terhadap dolar AS,” ungkap dia.
Ia menjelaskan, tingginya permintaan dolar turut dipengaruhi faktor musiman, seperti kebutuhan pelaksanaan ibadah haji dan pembayaran dividen pada kuartal kedua 2026.
Selain faktor domestik, tekanan eksternal juga meningkat akibat eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong investor beralih ke aset aman, sehingga memperkuat dolar AS.
"Biasanya juga pada saat ibadah Haji, dan juga biasanya di kuartal kedua itu juga ada pembayaran dividen, jadi demand terhadap Dolar AS tinggi," tuturnya.
Airlangga menegaskan pemerintah akan terus menyesuaikan kebijakan secara fleksibel mengikuti dinamika global yang berkembang.
Ia juga memastikan langkah mitigasi risiko eksternal akan terus diperkuat guna menjaga stabilitas ekonomi nasional. (ant/rpi)
Load more