Rupiah Dibuka Melemah dan Ditutup Anjlok ke Rp17.382, BI Akui Cadangan Devisa Ikut Turun
- Antara
Pejabat The Fed Cleveland, Beth Hammack, menyebut suku bunga AS kemungkinan tetap dipertahankan dalam waktu tertentu.
Sementara Presiden The Fed Minneapolis, Neel Kashkari, menilai inflasi di AS masih terlalu tinggi.
Pelaku pasar kini menunggu data ketenagakerjaan AS periode April 2026 yang dinilai akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga The Fed selanjutnya.
“Para ekonom memperkirakan peningkatan 62.000 pekerjaan di AS untuk bulan April, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan tetap stabil di 4,3 persen,” kata Ibrahim.
Menurut dia, laporan tersebut berpotensi memengaruhi langkah Federal Reserve terkait kebijakan moneter ke depan.
Utang Pemerintah dan Tekanan Fiskal Ikut Jadi Sorotan
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga dipicu kondisi fiskal yang dinilai semakin berat.
Ibrahim menyoroti posisi utang pemerintah Indonesia yang mencapai Rp9.920,42 triliun per 31 Maret 2026.
Jumlah tersebut naik hampir 3 persen dibanding posisi Desember 2025 sebesar Rp9.637,9 triliun.
Posisi utang itu kini setara 40,75 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Selain itu, tekanan harga energi global juga dinilai membuka kemungkinan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi di tengah meningkatnya beban subsidi pemerintah.
Cadangan Devisa Indonesia Ikut Turun
Di tengah pelemahan rupiah, Bank Indonesia juga mencatat cadangan devisa Indonesia mengalami penurunan.
Posisi cadangan devisa pada akhir April 2026 tercatat sebesar US$146,2 miliar atau turun 1,35 persen dibanding akhir Maret 2026 yang mencapai US$148,2 miliar.
Direktur Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan penurunan tersebut dipengaruhi pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah stabilisasi nilai tukar rupiah.
“Perkembangan ini dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa, serta penerbitan global bond pemerintah di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah,” ujar Denny.
BI Gunakan Cadangan Devisa untuk Stabilkan Rupiah
Bank Indonesia sebelumnya juga mengungkap strategi stabilisasi rupiah dilakukan melalui intervensi di pasar valuta asing.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyebut intervensi dilakukan baik di pasar domestik maupun offshore Non-Deliverable Forward (NDF).
Langkah tersebut dilakukan dengan memanfaatkan cadangan devisa negara guna meredam gejolak pasar keuangan global.
Load more