Rupiah Tembus Rp17.400 per Dolar AS, Ekonom Sebut Alarm Bahaya Ekonomi: Fondasi Kita Masih Rapuh
- tvOnenews.com/Wildan M.
Jakarta, tvOnenews.com - Pelemahan rupiah hingga menyentuh level Rp17.400 per dolar Amerika Serikat (AS) dinilai bukan sekadar gejolak pasar biasa.
Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat menyebut kondisi tersebut menjadi alarm serius yang mencerminkan rapuhnya fondasi ekonomi nasional di tengah tekanan global.
Sorotan terhadap rupiah semakin tajam setelah Forbes Advisor pada April 2026 menempatkan mata uang Indonesia sebagai salah satu yang terlemah di dunia. Di tengah kekayaan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia justru masih menghadapi tekanan besar untuk menjaga stabilitas kurs.
“Mengapa rupiah terus melemah meski Indonesia kaya sumber daya alam? Mengapa negara harus mengeluarkan biaya intervensi besar hanya untuk menjaga nilai tukar agar tidak jatuh lebih dalam?” ujar Achmad Nur Hidayat saat dihubungi, Senin (11/5/2026).
Menurut dia, pelemahan rupiah tidak bisa dipandang hanya sebagai persoalan teknis pasar keuangan atau dampak sementara gejolak global. Nilai tukar disebut menjadi cermin tingkat kepercayaan dunia terhadap kekuatan ekonomi sebuah negara.
Achmad mencontohkan posisi dinar Kuwait yang tetap menjadi mata uang paling bernilai di dunia. Perbedaan nilai tukar itu dinilai bukan sekadar persoalan nominal, melainkan mencerminkan kualitas pengelolaan ekonomi dan kredibilitas negara di mata global.
“Perbedaan ini bukan sekadar soal nominal mata uang, melainkan refleksi dari kualitas pengelolaan ekonomi dan kepercayaan global terhadap suatu negara,” katanya.
Ia menilai Indonesia saat ini sedang menghadapi persoalan yang jauh lebih mendasar dibanding fluktuasi kurs harian. Pelemahan rupiah disebut sebagai sinyal bahwa struktur ekonomi domestik belum cukup kuat menghadapi tekanan eksternal.
“Indonesia hari ini sedang menghadapi persoalan yang lebih dalam dibanding sekadar fluktuasi kurs. Pelemahan rupiah adalah alarm bahwa fondasi ekonomi nasional masih rapuh,” ujarnya.
Di tengah tekanan tersebut, pemerintah dan Bank Indonesia tetap menunjukkan optimisme terhadap prospek rupiah.
Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya menyatakan, nilai tukar rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalue dan berpotensi kembali menguat seiring kuatnya fundamental ekonomi domestik.
Dalam pertemuan bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Perry menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi, inflasi, kredit, hingga cadangan devisa menunjukkan kondisi ekonomi Indonesia masih solid.
Load more