Rupiah Terpuruk, Ekonom Sebut Ada Masalah Domestik yang Belum Selesai: Kepercayaan Investor Global Menurun
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com - Pelemahan rupiah yang terus menekan hingga menyentuh level terburuk dinilai bukan semata akibat gejolak global.
Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat menilai, anjloknya mata uang Indonesia justru membuka persoalan mendasar yang selama ini membayangi struktur ekonomi nasional.
Menurut Achmad, nilai tukar pada dasarnya merupakan cerminan tingkat kepercayaan dunia terhadap kekuatan ekonomi sebuah negara. Ketika kepercayaan melemah, mata uang ikut tertekan.
“Nilai tukar pada dasarnya adalah ukuran kepercayaan. Semakin kuat kepercayaan dunia terhadap ekonomi suatu negara, semakin kuat pula mata uangnya,” ujarnya saat dihubungi, Senin (11/5/2026).
Ia menegaskan pelemahan rupiah tidak bisa terus menerus dibenarkan hanya dengan alasan faktor eksternal seperti konflik Timur Tengah atau kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS).
“Karena itu, pelemahan rupiah tidak bisa hanya dijelaskan dengan alasan eksternal seperti perang Timur Tengah atau suku bunga The Fed,” katanya.
Achmad mengakui tekanan global memang nyata. Konflik geopolitik, tingginya suku bunga AS, dan arus modal keluar dari negara berkembang disebut menjadi faktor yang ikut menekan rupiah.
Namun ia menilai persoalan Indonesia jauh lebih kompleks karena banyak negara lain menghadapi tekanan serupa tanpa mengalami pelemahan sedalam rupiah.
“Namun negara lain juga menghadapi tekanan yang sama, tetapi tidak semua mata uang jatuh sedalam rupiah. Artinya ada persoalan domestik yang belum selesai,” ujarnya.
Ia menilai investor global masih melihat Indonesia dibayangi berbagai persoalan struktural, mulai dari ketidakpastian fiskal, lemahnya pendalaman industri, hingga ketergantungan tinggi terhadap impor energi dan bahan baku.
“Investor global melihat Indonesia masih menghadapi ketidakpastian fiskal, lemahnya pendalaman industri, serta ketergantungan tinggi pada impor energi dan bahan baku. Ketika kepercayaan menurun, permintaan terhadap dolar meningkat dan rupiah tertekan,” katanya.
Achmad menggambarkan kondisi ekonomi Indonesia layaknya kapal besar yang memiliki sumber daya melimpah, namun tidak ditopang mesin ekonomi yang cukup kuat untuk menghadapi badai global.
“Ibarat kapal besar, Indonesia sebenarnya memiliki ukuran dan sumber daya yang luar biasa. Tetapi kapal besar tanpa mesin yang kuat akan tetap mudah dihantam ombak,” ujarnya.
Ia menyoroti ketergantungan Indonesia terhadap ekspor komoditas mentah yang membuat ekonomi domestik sangat rentan terhadap fluktuasi harga global. Ketika harga batu bara, nikel, atau sawit turun, penerimaan devisa ikut melemah sementara kebutuhan impor tetap tinggi.
“Kita terlalu bergantung pada ekspor komoditas mentah. Ketika harga batu bara, nikel, atau sawit turun, penerimaan devisa ikut melemah. Sementara kebutuhan impor tetap tinggi, terutama energi dan barang modal. Akibatnya permintaan dolar terus meningkat,” katanya.
Di tengah tekanan rupiah, cadangan devisa Indonesia juga terus tergerus. Data Bank Indonesia menunjukkan posisi devisa turun dari US$154,6 miliar pada Januari 2026 menjadi US$146,2 miliar pada April 2026.
Menurut Achmad, penurunan tersebut salah satunya dipicu intervensi besar-besaran untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di pasar.
“Penurunan ini salah satunya disebabkan intervensi besar besaran untuk menjaga stabilitas rupiah,” ujarnya.
Ia menilai kondisi itu menjadi ironi besar bagi Indonesia. Di satu sisi pemerintah dan bank sentral terus menggelontorkan devisa demi menjaga rupiah, namun di sisi lain akar persoalan struktural ekonomi belum dibenahi secara menyeluruh.
“Di sinilah letak ironi terbesar Indonesia. Kita membakar devisa untuk mempertahankan nilai tukar, tetapi akar kelemahan ekonominya belum diperbaiki,” tutupnya.
Sebagai informasi, nilai tukar rupiah pagi hari ini 11 Mei 2026 bergerak melemah 4 poin atau 0,02 persen.
Rupiah hari ini menjadi Rp17.386 per dolar AS, nyaris menyentuh angka Rp17.4000 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.382 per dolar AS. (agr/muu)
Load more