Rupiah Jebol Rp17.658 per Dolar AS, Purbaya Sebut Pemerintah Siap Serbu Pasar Obligasi
- tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar
Jakarta, tvOnenews.com — Nilai tukar mata uang rupiah kembali mencetak rekor terburuk sepanjang sejarah setelah dolar Amerika Serikat (AS) menembus level Rp17.658 pada perdagangan Senin (18/5/2026).
Di tengah gejolak pasar dan ambruknya IHSG, pemerintah memutuskan turun langsung ke pasar obligasi untuk menahan tekanan yang semakin dalam.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pemerintah mulai memperbesar intervensi melalui skema bond stabilization fund (BSF) guna menjaga stabilitas pasar surat utang negara sekaligus membantu penguatan rupiah terhadap dolar AS.
Sekitar pukul 09.10 WIB, nilai tukar dolar AS tercatat berada di level Rp17.658 atau menguat 61 poin (0,35 persen). Level tersebut menjadi titik pelemahan rupiah terdalam sepanjang masa.
Menghadapi tekanan tersebut, Purbaya memastikan pemerintah tidak tinggal diam. Kementerian Keuangan disebut akan meningkatkan aksi pembelian di pasar obligasi mulai hari ini setelah intervensi awal dilakukan secara terbatas sejak pekan lalu.
“Kita juga akan masuk ke bond market mulai hari ini, Minggu lalu udah masuk, tapi hanya sedikit. Mulai hari ini akan kita masuk dengan lebih signifikan lagi, sehingga pasar obligasinya terkendali,” beber Purbaya di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (18/5/2026).
Menurut Purbaya, stabilitas pasar obligasi menjadi kunci penting untuk meredam kepanikan investor asing yang memegang surat utang Indonesia. Pemerintah ingin memastikan investor tidak melepas asetnya akibat kekhawatiran kerugian besar atau capital loss.
“Jadi, asing yang pegang obligasi nggak keluar karena takut misalnya ada capital loss gara-gara harga obligasi turun. Itu kita akan bisa membantu pergerakan rupiah sedikit,” ujar Purbaya.
Langkah intervensi tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah membantu Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan pasar global yang terus meningkat.
Purbaya mengungkapkan intervensi melalui pasar obligasi sebenarnya sudah dimulai sejak Rabu 13 Mei 2026. Namun, pemerintah kini memutuskan memperbesar aksi stabilisasi karena tekanan di pasar keuangan semakin tajam.
Gejolak rupiah terjadi bersamaan dengan kejatuhan pasar saham domestik. Berdasarkan data RTI Business pukul 09.00 WIB, IHSG langsung dibuka anjlok 164,23 poin atau 2,44 persen ke level 6.559 usai libur panjang.
Load more