Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp18.000, Purbaya Tegaskan Asumsi APBN Belum Perlu Direvisi
- tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar
Jakarta, tvOnenews.com - Di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang masih bertahan di atas level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan, pemerintah belum melihat kebutuhan untuk merevisi asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika rupiah kembali melemah pada perdagangan Jumat (5/6/2026). Mata uang rupiah dibuka turun 0,23 persen ke level Rp18.074 per dolar AS, melanjutkan tren pelemahan yang terjadi sehari sebelumnya.
Meski rata-rata nilai tukar rupiah sepanjang tahun berjalan sudah berada jauh di atas asumsi APBN, pemerintah menilai kondisi tersebut masih dapat dikelola tanpa harus melakukan koreksi terhadap kerangka fiskal yang telah ditetapkan.
Data Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menunjukkan rata-rata nilai tukar rupiah secara year-to-date berada di level Rp17.057 per dolar AS, sementara asumsi dalam APBN 2026 dipatok sebesar Rp16.500 per dolar AS.
Namun, Purbaya menegaskan pelemahan rupiah saat ini belum cukup menjadi alasan untuk mengubah asumsi dasar APBN.
“Waktu kita exercise sebelumnya, waktu exercise harga BBM itu, rupiahnya sudah di level yang cukup tinggi. Jadi saya tahu harus adjust lagi apa enggak dengan level yang sekarang, saya masih belum harus adjust,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KITA di Kantor Kemenkeu, Jakarta Pusat, Jumat (5/6/2026).
Pemerintah masih mempertahankan target pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar 5,4 persen. Hingga kuartal I-2026, perekonomian nasional tercatat tumbuh 5,6 persen, melampaui target yang telah ditetapkan dalam APBN.
Dari sisi harga, inflasi berada di level 3,08 persen atau sedikit lebih tinggi dibandingkan asumsi makro pemerintah. Namun angka tersebut masih berada dalam rentang yang dinilai terkendali dan tidak mengganggu stabilitas ekonomi secara keseluruhan.
Sementara itu, pasar obligasi pemerintah juga masih menunjukkan kondisi yang relatif stabil. Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun secara rata-rata tahun berjalan berada di level 6,48 persen dan pada akhir periode tercatat 6,67 persen, lebih rendah dibandingkan asumsi APBN sebesar 6,9 persen.
Di sisi lain, harga minyak mentah Indonesia justru menjadi salah satu variabel yang bergerak jauh di atas asumsi pemerintah. Hingga saat ini, rata-rata harga minyak mentah Indonesia mencapai US$91,9 per barel, jauh melampaui asumsi APBN yang hanya sebesar US$70 per barel.
Meski sejumlah indikator bergerak di luar asumsi awal, pemerintah menilai koordinasi kebijakan fiskal dan moneter masih mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut Purbaya, salah satu indikator yang menunjukkan kuatnya dukungan likuiditas terhadap perekonomian adalah pertumbuhan jumlah uang beredar yang terus meningkat.
“Dibanding bulan-bulan sebelumnya, trendnya cenderung meningkat secara bertahap. Artinya, ada cukup uang di perekonomian untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ke level yang tinggi,” katanya.
Pertumbuhan uang beredar pada Mei 2026 tercatat mencapai 18 persen secara tahunan. Pemerintah menilai kondisi tersebut mencerminkan tersedianya likuiditas yang cukup untuk menopang aktivitas ekonomi, investasi, serta konsumsi masyarakat.
Diketahui, nilai tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan hari ini menguat 13 poin atau 0,07 persen jadi Rp18.036 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.049 per dolar AS. (agr/rpi)
Load more