Dubes RI Beberkan Nilai Dagang RI-China Rp3.024 Triliun, Tawarkan Indonesia Jadi Hub ASEAN
- Abdul Gani Siregar-tvOne
Jakarta, tvOnenews.com – Pemerintah pun mendorong agar kemitraan Indonesia-China tidak lagi hanya berorientasi pada besarnya transaksi, melainkan bertransformasi menjadi kerja sama yang lebih berkualitas, berkelanjutan, dan bernilai tambah bagi kedua belah pihak.
Hal itu disampaikan Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok Djauhari Oratmangun dalam sambutannya pada Indonesia-China Partnership Forum: Advancing Green Energy and Future Technology di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta Pusat, Kamis (23/7/2026).
Djauhari mengatakan perdagangan dan investasi menjadi fondasi utama hubungan bilateral Indonesia dan China.
Menurutnya, posisi China sebagai mitra dagang sekaligus investor utama Indonesia tercermin dari pertumbuhan nilai perdagangan yang melonjak hampir empat kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir.
“Perdagangan dan investasi adalah fondasi penting hubungan Indonesia dan Tiongkok. Tiongkok merupakan mitra dagang dan investasi utama Indonesia,” kata Djauhari.
Ia mengungkapkan nilai perdagangan bilateral meningkat tajam dari sekitar US$44 miliar pada 2015 menjadi US$168 miliar atau sekitar Rp3.024 triliun pada 2025.
“Perdagangan bilateral telah tumbuh signifikan dari sekitar US$44 miliar tahun 2015 menjadi US$168 miliar, atau sekitar Rp3.024 triliun, pada tahun 2025 tahun lalu,” ujarnya.
Tren positif tersebut berlanjut sepanjang tahun ini. Berdasarkan data kepabeanan China, total perdagangan Indonesia dan China selama Januari hingga Juni 2026 telah mencapai US$101 miliar atau sekitar Rp1.818 triliun.
Dalam periode tersebut, Indonesia membukukan surplus perdagangan sekitar US$5,6 miliar atau setara Rp100,8 triliun.
Di sisi investasi, Djauhari menyebut realisasi investasi dari China dan Hong Kong juga terus meningkat. Sepanjang 2025, total investasi dari kedua wilayah tersebut mencapai sekitar US$18 miliar atau setara Rp324 triliun.
Sementara hingga pertengahan 2026, nilainya telah menyentuh sekitar US$9 miliar atau Rp162 triliun.
“Hingga bulan Juni tahun 2026, jumlah investasi China dan Hong Kong telah mencapai kurang lebih US$9 miliar atau Rp162 triliun. Saya kira yang terbesar,” katanya.
Meski demikian, Djauhari menegaskan tantangan berikutnya bukan sekadar mengejar peningkatan nilai perdagangan maupun investasi.
Pemerintah menginginkan hubungan ekonomi Indonesia dan China menghasilkan manfaat yang lebih luas melalui investasi berkualitas, transfer teknologi, dan pembangunan yang berkelanjutan.
“Angka ini menunjukkan hubungan ekonomi yang kuat, saling melengkapi, dan terus berkembang. Namun, tugas ke depan, tugas kita ke depan bukan hanya meningkatkan angka perdagangan tetapi juga investasi,” ungkapnya.
“Yang lebih penting adalah memastikan kerja sama tersebut semakin berkualitas, semakin berkelanjutan, dan semakin memberikan manfaat nyata bagi kedua negara,” lanjut dia.
Dalam kesempatan itu, Djauhari juga menawarkan posisi strategis Indonesia sebagai pintu masuk ke pasar ASEAN.
Dengan status sebagai ekonomi terbesar di kawasan, jumlah penduduk terbesar, serta pasar domestik yang luas, Indonesia dinilai memiliki daya tarik yang tidak dimiliki banyak negara lain di Asia Tenggara.
“Indonesia juga memiliki posisi strategis di ASEAN. Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di ASEAN, populasi terbesar di kawasan, dan pasar domestik yang sangat besar, Indonesia adalah salah satu motor utama pertumbuhan ASEAN,” jelas dia.
Menurutnya, berinvestasi di Indonesia berarti sekaligus membuka akses menuju pasar regional ASEAN yang terus berkembang.
“Karena itu, berinvestasi di Indonesia bukan hanya berarti masuk ke Indonesia, tetapi masuk juga ke ASEAN,” bebernya.
Djauhari menambahkan Indonesia siap menjadi basis produksi, distribusi, inovasi, sekaligus pusat kemitraan bagi perusahaan-perusahaan China yang ingin memperluas bisnisnya di Asia Tenggara.
“Indonesia dapat menjadi hub produksi, hub distribusi, hub inovasi, hub kemitraan bagi perusahaan Tiongkok yang ingin tumbuh bersama di kawasan. Inilah nilai strategis Indonesia,” pungkasnya. (agr/nsi)
Load more