Iran-Oman Rebutan Selat Hormuz, Harga Minyak Diprediksi Tembus US$83 per Barel
- Shutterstock
Meski terjadi serangan terhadap kapal tanker, Ibrahim mengatakan respons harga minyak justru tidak menunjukkan lonjakan signifikan. Menurutnya, perhatian Amerika Serikat saat ini lebih tertuju pada kemungkinan tercapainya perjanjian antara Iran dan Oman mengenai pengendalian Selat Hormuz.
“Nah, serangan dari Iran ini rupanya tidak membuat harga minyak itu kembali mengalami kenaikan, tetapi Amerika Serikat fokus terhadap perjanjian yang ada di ini antara Iran dan Oman untuk pengendalian Selat Hormuz,” ungkap Ibrahim.
Di sisi lain, Iran disebut memiliki kepentingan lain dalam perkembangan konflik dengan Amerika Serikat. Ibrahim mengatakan Iran menginginkan agar AS tidak melakukan serangan terhadap fasilitas-fasilitas yang berada di wilayah Iran.
“Nah, di sisi lain pun juga kita lihat bahwa keinginan dari Iran sendiri adalah, ya, bahwa keinginan dari Iran sendiri semua yang diinginkan oleh Iran itu adalah tidak adanya Amerika, ya, melakukan penyerangan terhadap apa? Terhadap fasilitas yang dimiliki oleh Iran,” tukas dia.
Situasi tersebut juga berkaitan dengan pembahasan anggaran perang di Amerika Serikat. Ibrahim menyebut Kongres AS masih akan membahas pembiayaan perang dalam waktu dekat.
“Nah, sehingga apa? Ini yang diinginkan oleh Iran, ya, terhadap Amerika. Walaupun Amerika sendiri saat ini terus menggodok tentang masalah anggaran, anggaran perang, ya, di Kongres yang kemungkinan besar dalam minggu depan itu masih akan dibahas, ya, tentang pembiayaan untuk perang,” pungkasnya. (agr/rpi)
Load more