64,5 Persen UMKM Dipimpin Perempuan, KKI 2026 Soroti Kekuatan Ekonomi Kaum Hawa
- Istimewa/Antara Foto
Jakarta, tvOnenews.com - Perempuan menempati posisi strategis dalam menggerakkan ekonomi kreatif Indonesia.
Bukan lagi sekadar menjadi pelengkap, perempuan kini menjadi pelaku utama yang memimpin usaha, menciptakan produk, hingga membuka akses pasar bagi produk lokal.
Gambaran tersebut terlihat dalam gelaran Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 yang digelar di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta.
Mengusung tema “Beudaya MeusareSare’” atau Berdaya Bersama-sama, KKI tahun ini menempatkan pemberdayaan perempuan sebagai salah satu kekuatan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
KKI 2026 diinisiasi Bank Indonesia bersama 27 kementerian dan lembaga terkait. Sebanyak 550 UMKM binaan dari berbagai daerah di Indonesia ambil bagian dalam ajang tersebut, menampilkan beragam produk mulai dari kriya, busana, hingga olahan pangan.
Di balik ragam produk yang dipamerkan, terdapat potensi ekonomi perempuan yang semakin besar. Data BPS 2025 mencatat 64,5 persen pelaku UMKM di Indonesia dikelola dan dipimpin perempuan.
Sementara itu, perempuan menyumbang 58,39 persen tenaga kerja di sektor ekonomi kreatif nasional. Namun, besarnya kontribusi tersebut masih perlu diikuti dengan penguatan akses dan kapasitas ekonomi.
Perempuan pelaku usaha tidak cukup hanya menjadi pekerja atau pengelola usaha, tetapi juga harus memiliki kendali atas pendapatan, akses terhadap layanan keuangan formal, serta ruang dalam pengambilan keputusan ekonomi.
Hal itu menjadi salah satu sorotan dalam Inclusion Talk bertajuk “Berdaya dan Sejahtera, Perempuan Bisa” yang menjadi bagian dari rangkaian KKI 2026 pada 21 Agustus.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta mengatakan pemberdayaan perempuan akan memberikan dampak yang lebih besar terhadap perekonomian apabila dibarengi dengan perluasan akses dan kesempatan.
“Semakin luas akses dan kesempatan yang dimiliki perempuan, semakin besar pula dampaknya bagi perekonomian nasional secara berkelanjutan. Pemberdayaan ekonomi dan keuangan inklusif harus dilakukan bersama-sama sejalan dengan semangat Budaya MeusareSare,” ujar Filianingsih.
Bank Indonesia juga menggandeng Women’s World Banking (WWB) untuk meluncurkan kajian strategis bertajuk “Menuju Model Bisnis Inklusif yang Responsif Gender: Pembelajaran dari Kelompok Subsisten di Indonesia”.
Kajian tersebut diarahkan menjadi panduan bagi berbagai pihak yang bergerak dalam pemberdayaan ekonomi perempuan, khususnya untuk membantu kelompok usaha perempuan yang masih berada pada level subsisten agar dapat berkembang menjadi usaha yang lebih mandiri.
Model yang ditawarkan bertumpu pada empat pilar, yakni Akses, Partisipasi, Kontrol, dan Manfaat (APKM). Penguatan tersebut turut dipadukan dengan pemanfaatan teknologi digital yang disesuaikan dengan kebutuhan perempuan pelaku usaha.
Langkah ini menjadi penting karena tantangan UMKM perempuan tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan produk. Akses pembiayaan, kemampuan mengelola keuangan, penguasaan teknologi, serta kemampuan memperluas pasar turut menentukan apakah sebuah usaha mampu naik kelas.
Semangat pemberdayaan perempuan juga terlihat sejak pembukaan KKI 2026 pada 20 Agustus. Acara tersebut dihadiri Ketua Umum Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Selvi Ananda Gibran Rakabuming bersama Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia Destry Damayanti.
Destry menegaskan KKI 2026 menjadi simbol kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat daya saing produk lokal hingga mampu menembus pasar global.
Dari sisi pelaku usaha, pengalaman nyata turut dibagikan Syanaz Nadya Winanto Putri dari Rorokenes serta Senior Policy Strategist South East Asia Women’s World Banking Desi Vicianna.
Keduanya menyoroti pentingnya inovasi produk, penguatan kelompok usaha, dan literasi digital sebagai modal penting agar perempuan pelaku UMKM tidak berhenti pada skala usaha kecil, tetapi mampu berkembang dan naik kelas.
Dukungan terhadap UMKM dan karya perempuan juga datang dari berbagai kalangan.
Hingga 22 Agustus, KKI 2026 turut dihadiri Ketua Dewan OJK Friderica Widyasari Dewi, Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti, hingga desainer Didit Hediprasetyo.
Kehadiran sejumlah tokoh tersebut menjadi bagian dari dukungan lintas sektor terhadap pengembangan UMKM dan karya wastra Indonesia.
KKI 2026 pun tidak hanya menjadi etalase produk lokal. Gelaran ini sekaligus memperlihatkan bahwa pemberdayaan perempuan memiliki dimensi ekonomi yang lebih luas dari meningkatkan pendapatan rumah tangga, memperkuat kemandirian pelaku usaha, hingga membuka peluang bagi produk Indonesia masuk ke pasar global. (agr/nsi)
Load more