Rupiah Bisa Tembus Rp17.900 per Dolar AS Pekan Depan, Inflasi dan The Fed Jadi Penentu
- tvOnenews.com/Julio Trisaputra
Jakarta, tvOnenews.com – Nilai tukar rupiah pada pekan depan dalam posisi konsolidasi setelah sepanjang sepekan terakhir bergerak relatif terbatas. Meski ditutup menguat, ruang pelemahan rupiah masih terbuka di tengah penantian pasar terhadap sejumlah indikator ekonomi penting dari dalam dan luar negeri.
Pada perdagangan Jumat (28/8/2026), rupiah ditutup di level Rp17.693 per dolar Amerika Serikat (AS). Secara mingguan, posisi tersebut hanya menguat tipis 0,01 persen.
Kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) juga bergerak terbatas. JISDOR menguat tipis menjadi Rp17.703 per dolar AS dari posisi sepekan sebelumnya sebesar Rp17.705 per dolar AS.
Pengamat Komoditas dan Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menilai, minimnya pergerakan rupiah tidak terlepas dari sikap pelaku pasar yang cenderung menahan diri menjelang keluarnya sejumlah data ekonomi penting.
“Pelaku pasar cenderung menahan diri dari mengambil posisi agresif sebelum melihat angka inflasi resmi,” tulis Ibrahim dalam keterangan suara yang diterima, Minggu (30/8/2026).
Ibrahim memproyeksikan rupiah pada perdagangan pekan depan akan bergerak dalam rentang Rp17.600 hingga Rp17.900 per dolar AS.
Rentang tersebut menunjukkan pasar masih menghadapi ketidakpastian cukup tinggi. Di satu sisi, rupiah memiliki peluang menguat apabila sentimen domestik membaik. Namun, tekanan eksternal maupun meningkatnya kebutuhan dolar AS dapat kembali membawa rupiah ke level yang lebih lemah.
Menurut Ibrahim, salah satu faktor domestik yang akan menjadi perhatian utama pasar adalah data inflasi. Angka tersebut penting karena menjadi salah satu pertimbangan Bank Indonesia dalam menentukan arah kebijakan moneter dan suku bunga ke depan.
Jika laju inflasi tetap terkendali, Bank Indonesia dinilai memiliki ruang untuk melanjutkan pelonggaran moneter. Namun, sebelum angka resmi tersebut dirilis, pelaku usaha dan investor cenderung memilih bersikap wait and see.
Selain inflasi, pasar juga akan mencermati data perdagangan Juli 2026 yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS).
Data perdagangan akan memberikan gambaran mengenai dinamika pasokan, permintaan, hingga biaya logistik pangan. Ketergantungan yang lebih tinggi terhadap pasokan luar negeri berpotensi meningkatkan kebutuhan impor dan pada akhirnya menambah permintaan terhadap dolar AS.
Load more