Marketing Makin Canggih, tapi Belum Tentu Bikin Penjualan Naik, Kok Bisa?
- Istockphoto
Jakarta, tvOnenews.com - Besarnya anggaran marketing belum tentu menjamin pertumbuhan bisnis. Di tengah semakin masifnya penggunaan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI), perusahaan justru menghadapi tuntutan baru agar setiap rupiah yang dikeluarkan untuk pemasaran dapat dibuktikan dampaknya terhadap omzet.
Riset Warta Ekonomi terhadap 114 perusahaan menunjukkan tantangan tersebut masih cukup besar. Sebanyak 94,74% perusahaan yang dinilai telah melakukan ekspansi maupun inovasi dan mendapatkan pengakuan eksternal atas kekuatan mereknya.
Sementara itu, 96,49% perusahaan tercatat aktif menjalankan kampanye pemasaran dalam satu tahun terakhir. Sebanyak 86,84% juga telah memanfaatkan teknologi digital, data, dan/atau AI untuk memperkuat pengalaman pelanggan.
Namun, tingginya adopsi teknologi belum otomatis menghasilkan pengembalian investasi yang tinggi.
Sebanyak 61,11% perusahaan tercatat memiliki ROI marketing di bawah 10%. Di sisi lain, 61,54% perusahaan yang memiliki data pertumbuhan pendapatan yang dapat diverifikasi tercatat tumbuh di atas median 7,4%.
Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan marketing saat ini bukan lagi sekadar soal seberapa besar anggaran yang dikeluarkan, tetapi seberapa besar pertumbuhan tambahan yang dihasilkan dari investasi tersebut.
AI Tak Otomatis Bikin Penjualan Naik
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Shinta Kamdani mengatakan besarnya investasi marketing dan teknologi tidak otomatis membuat perusahaan lebih mudah menciptakan pertumbuhan.
“Bukan hanya how much are we investing, but how much incremental growth every investment creates,” ujar Shinta.
Menurutnya, CMO harus mampu membaca sinyal pasar, menerjemahkan data menjadi insight, mengalokasikan sumber daya, hingga menghubungkan aktivitas marketing dengan hasil bisnis.
Karena itu, keputusan mengenai segmentasi pelanggan, pemilihan kanal, alokasi media, pembangunan merek hingga portofolio produk perlu dilihat sebagai keputusan untuk mengalokasikan growth capital, bukan sekadar aktivitas pemasaran.
Shinta juga mengingatkan perusahaan agar tidak menjadikan AI sebagai strategi utama.
“AI bukan strategi, decision advantage adalah strateginya. AI hanyalah enabler untuk meningkatkan speed of insight, precision of targeting, prediction capability, personalization, dan decision velocity,” katanya.
Shinta menyebut sekitar 70% perusahaan menempatkan AI sebagai prioritas penting dengan rata-rata 15% anggaran marketing dialokasikan untuk teknologi tersebut. Namun, baru sekitar 30% organisasi yang dinilai benar-benar siap menggunakannya secara optimal.
Load more