Rupiah Tertekan 7 Hari Beruntun, Industri Mulai Waspadai Lonjakan Biaya Impor
- tvOnenews.com/Julio Trisaputra
Jakarta, tvOnenews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan Jumat, 18 September 2026. Rupiah ditutup turun 0,03 persen atau lima poin ke level Rp17.758 per dolar AS dari posisi perdagangan sebelumnya Rp17.753 per dolar AS.
Pelemahan tersebut memperpanjang tren negatif rupiah menjadi tujuh sesi perdagangan berturut-turut. Dalam sepekan, mata uang Garuda tercatat terkoreksi 0,83 persen.
Sementara itu, berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), rupiah berada di level Rp17.745 per dolar AS. Posisi tersebut menguat tipis dibandingkan hari sebelumnya, tetapi secara mingguan masih melemah 0,76 persen.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah penguatan dolar AS setelah Federal Reserve atau The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Pada 16 September 2026, The Fed menaikkan suku bunga ke kisaran 3,75-4,00 persen.
Kenaikan suku bunga AS turut mendorong indeks dolar ke level 100. Kondisi tersebut memberikan tekanan terhadap mayoritas mata uang kawasan Asia.
Mata Uang Asia Ikut Tertekan
Penguatan dolar AS tidak hanya berdampak terhadap rupiah. Sejumlah mata uang Asia juga mengalami tekanan, termasuk won Korea Selatan dan yen Jepang.
Di tengah tekanan tersebut, yuan China bergerak berbeda. Mata uang Negeri Tirai Bambu tersebut justru menguat hingga menembus level CNY 6,69 per dolar AS.
Pergerakan mata uang kawasan menjadi perhatian karena kebijakan moneter AS dan harga komoditas energi global turut memengaruhi arus modal serta sentimen pasar.
Di dalam negeri, tingginya harga minyak dunia juga menjadi salah satu faktor yang membayangi pergerakan rupiah. Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan risiko harga minyak masih menjadi perhatian pasar karena berada di atas asumsi dalam APBN.
“Penguatan obligasi pemerintah masih dibayangi risiko harga minyak yang masih di level tinggi di atas asumsi APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara),” ujar Rully.
Rully juga melihat ekspektasi terhadap berlanjutnya kebijakan pengetatan moneter AS hingga akhir tahun semakin kuat. Pelaku pasar bahkan memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober sudah berada di atas 50 persen.
Industri Manufaktur Hadapi Tekanan Bahan Baku Impor
Pelemahan rupiah mulai menjadi perhatian sektor riil, khususnya industri yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti menilai depresiasi rupiah memberikan tekanan langsung terhadap industri manufaktur nasional. Ketergantungan terhadap bahan baku impor membuat biaya produksi meningkat ketika nilai tukar rupiah melemah.
Di sisi lain, pelaku usaha menghadapi keterbatasan untuk menaikkan harga jual karena daya beli masyarakat masih rendah.
“Pelaku usaha sulit menaikkan harga jual produk di tengah rendahnya daya beli masyarakat, sehingga margin keuntungan tertekan,” kata Esther, Kamis, 17 September 2026.
Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu panjang, perusahaan berpotensi mengambil langkah efisiensi operasional.
“Penurunan kinerja keuangan berpotensi memicu perusahaan untuk menahan rekrutmen baru atau melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) demi kelangsungan usaha,” tegasnya.
Industri Tekstil Menunggu Arah Rupiah
Tekanan nilai tukar juga dirasakan industri tekstil. Selain menghadapi kenaikan harga bahan baku impor seperti polyester, industri tersebut juga berhadapan dengan pelemahan permintaan ekspor.
Ketidakpastian ekonomi global juga membuat konsumen di luar negeri cenderung menahan belanja. Kondisi itu berpotensi semakin menekan permintaan ekspor produk tekstil.
Pelaku usaha tekstil kini masih memantau perkembangan nilai tukar sebelum menentukan volume produksi berikutnya..
China Soroti Stabilitas Yuan
Di tingkat regional, People's Bank of China (PBOC) menegaskan bahwa pergerakan mata uang tidak akan dimanfaatkan semata-mata untuk memperoleh keuntungan perdagangan.
Wakil Gubernur PBOC Lu Lei mengatakan China berkomitmen menjaga penetapan nilai tukar secara rasional dan tidak menjadikan depresiasi mata uang sebagai strategi untuk memperoleh keuntungan kompetitif perdagangan.
“China tidak membutuhkan dan tidak memiliki niat untuk memperoleh keuntungan kompetitif perdagangan melalui depresiasi mata uang,” ujar Lu.
Sementara itu, Kepala Ekonom Huafu Securities Guan Tao mengingatkan pelaku pasar agar menyikapi pergerakan yuan secara proporsional.
“Penguatan dan pelemahan yuan masing-masing memiliki manfaat dan kerugian. Jangan memberikan penilaian berlebihan terhadap arah pergerakannya,” ujar Guan.
Pasar domestik selanjutnya akan mencermati Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 September 2026. Jadwal tersebut merupakan agenda resmi RDG BI September 2026 yang berlangsung selama dua hari.
Load more