IMF Peringatkan Utang Dunia Makin Berat, AS hingga Negara Berkembang Terancam Tertekan
- ANTARA
Jakarta, tvOnenews.com - Utang pemerintah kembali menjadi perhatian di tengah berbagai tekanan yang dihadapi perekonomian global pada 2026. Saat krisis muncul, pemerintah membutuhkan tambahan dana untuk menjaga aktivitas ekonomi. Namun, peningkatan utang yang terjadi ketika krisis tidak selalu diikuti penurunan yang sebanding setelah kondisi membaik.
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva menyampaikan peringatan tersebut setelah menghadiri pertemuan menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20 di Asheville, Amerika Serikat, pada 1 September 2026.
Georgieva mengatakan perekonomian dunia diperkirakan masih tumbuh sekitar 3 persen pada 2026. Namun, pertumbuhan tersebut berlangsung ketika risiko gangguan energi dan tekanan utang masih tinggi.
Menurut Georgieva, kondisi utang publik global kini perlu mendapat perhatian karena rasionya hampir menyentuh 100 persen dari produk domestik bruto (PDB) dunia.
Utang Naik Saat Krisis, Sulit Kembali Turun
Georgieva menggambarkan pergerakan utang pemerintah seperti anak tangga. Utang cenderung melonjak ketika terjadi guncangan, tetapi setelah kondisi kembali membaik, penurunannya tidak selalu mengikuti kenaikan sebelumnya.
"Pergerakan utang menyerupai anak tangga: naik tajam saat guncangan terjadi, lalu hanya sedikit turun atau tidak turun sama sekali setelahnya," ujar Georgieva dalam pernyataan resminya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan rasio utang publik dunia terus meningkat. Ketika krisis terjadi, pemerintah membutuhkan pembiayaan lebih besar. Setelah krisis mereda, kewajiban yang sudah terlanjur bertambah tetap harus dibayar atau dikelola kembali.
Utang publik dunia kini disebut hampir mencapai 100 persen dari PDB global. Georgieva mengatakan rasio tersebut telah melampaui puncak yang tercatat setelah Perang Dunia II dan masih diperkirakan meningkat.
Data Trading Economics menunjukkan besarnya rasio utang terhadap PDB sejumlah negara pada 2025. Jepang berada pada sekitar 249 persen, Singapura 171 persen, Italia 137 persen, dan Amerika Serikat 123 persen. Sementara rasio utang Indonesia tercatat 41 persen.
Bunga Tinggi Persempit Ruang Anggaran
Persoalan utang tidak hanya berkaitan dengan besarnya pinjaman pemerintah. Negara yang harus membayar atau melakukan pembiayaan kembali utang lama juga menghadapi biaya pinjaman yang semakin tinggi.
Georgieva mengatakan imbal hasil obligasi di negara maju telah berada di level tertinggi dalam beberapa tahun. Kondisi tersebut turut meningkatkan biaya pinjaman di berbagai negara lainnya.
Tekanan tersebut dapat semakin terasa bagi negara berkembang dan negara berpendapatan rendah. Ketika anggaran pemerintah semakin banyak digunakan untuk membayar utang dan bunga, ruang untuk membiayai kebutuhan lain menjadi lebih terbatas.
Dana untuk pembangunan infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan berpotensi menghadapi tekanan ketika pembayaran utang menyerap porsi anggaran yang lebih besar.
Pada saat bersamaan, pembiayaan dari luar negeri juga mengalami penurunan. Georgieva menyebut bantuan pembangunan resmi berkurang, begitu pula aliran dana baru dari sejumlah kreditur.
IMF menilai kondisi utang negara berkembang memang menunjukkan perbaikan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, perkembangan tersebut belum terjadi secara merata.
Untuk negara yang sudah tidak mampu menanggung beban utangnya, Georgieva mendorong perbaikan proses penataan ulang utang. Ia juga meminta negara lebih transparan mengenai data utang dan memperkuat pengelolaannya agar lebih siap menghadapi guncangan berikutnya.
Utang AS Capai US$40,18 Triliun
Tekanan utang juga dihadapi Amerika Serikat (AS), meski negara tersebut merupakan perekonomian terbesar di dunia.
Secara nominal, utang pemerintah AS tercatat sekitar US$40,18 triliun pada Agustus 2026.
Pemerintah AS sebelumnya sempat mencatat penurunan defisit anggaran. Berdasarkan Fiscal Monitor IMF edisi April 2026, defisit turun dari 7,9 persen PDB pada 2024 menjadi 6,8 persen PDB pada 2025.
Salah satu faktor yang mendorong peningkatan penerimaan adalah pendapatan dari tarif impor. Penerimaan tersebut mencapai US$264 miliar sepanjang 2025.
Namun, penurunan defisit belum menghentikan kenaikan utang pemerintah AS. IMF memperkirakan defisit pemerintah AS masih berada di kisaran 7-8 persen PDB dalam beberapa tahun mendatang.
Pada saat yang sama, pembayaran bunga diperkirakan terus meningkat dan mendekati 5 persen PDB pada 2031.
Rasio Utang AS Diproyeksi 142 Persen PDB
Beban bunga yang semakin besar membuat pengelolaan anggaran pemerintah AS menghadapi tekanan tambahan. Ketika pengeluaran melampaui penerimaan, pemerintah perlu mencari pembiayaan tambahan melalui pinjaman.
Utang yang semakin besar kemudian menghasilkan kewajiban pembayaran bunga yang semakin tinggi.
IMF memperkirakan rasio utang publik AS dapat meningkat dari 123,9 persen PDB pada 2025 menjadi sekitar 142 persen PDB pada 2031.
IMF juga menyoroti perubahan struktur pembiayaan utang AS. Porsi surat utang berjangka pendek meningkat dalam satu dekade terakhir.
Surat utang berjangka pendek memiliki masa jatuh tempo lebih cepat sehingga pemerintah perlu lebih sering kembali ke pasar untuk mendapatkan pembiayaan. Ketika tingkat bunga sedang tinggi pada saat utang tersebut diperpanjang, biaya pembiayaan pemerintah dapat ikut meningkat.
Direktur Departemen Fiskal IMF Rodrigo Valdés kemudian meminta AS menyiapkan rencana yang jelas untuk menurunkan defisit. Menurutnya, penyesuaian yang diperlukan mencapai sekitar 4 poin persentase dari PDB.
Ia menyebut pasar masih memberikan waktu kepada AS, tetapi ruang tersebut tidak akan tersedia selamanya.
"AS tidak bisa menunggu selamanya," kata Valdés dalam pernyataannya pada 15 April 2026 yang dikutip Reuters.
Load more