130 Spesies Baru Ditemukan, Freeport Soroti Pentingnya Data untuk Jaga Ekosistem di Papua
- PTFI
Jakarta, tvOnenews.com - Upaya menjaga kelestarian lingkungan di Papua dan kawasan Indonesia bagian tengah serta timur membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Kolaborasi antara masyarakat lokal, industri, dan pemerintah daerah dinilai penting karena pengelolaan ekosistem di wilayah tersebut menghadapi tantangan alam sekaligus keterbatasan data.
Hal itu mengemuka dalam talkshow sesi tematik bertajuk 'Preserving Papua’s Ecosystems Through Biodiversity Conservation' pada Katadata SAFE 2026 di Sequis Tower, SCBD, Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Koordinator untuk Konservasi dan Pemantauan Keanekaragaman Hayati PT Freeport Indonesia, Kukuh Indra Kusuma, mengatakan pengelolaan ekosistem tidak dapat dilakukan oleh satu pihak. Menurut dia, kolaborasi diperlukan meski suatu wilayah berada dalam lingkup kerja perusahaan.
"Kami melihat bahwa kita enggak bisa yang namanya bekerja sendiri, harus secara kolaboratif. Walaupun katakanlah itu memang wilayah kerja kami, tapi secara kenyataannya kami enggak bisa melakukan itu sendirian," ujar Kukuh Indra Kusuma, Koordinator untuk Konservasi dan Pemantauan Keanekaragaman Hayati PT Freeport Indonesia, salah satu pembicara sesi tersebut.
Ia menambahkan, keterlibatan masyarakat lokal dan pemerintah setempat dibutuhkan agar pengelolaan ekosistem dapat dilakukan secara lebih menyeluruh.
"Kami tetap harus berkolaborasi dengan masyarakat lokal, kemudian dengan pemerintah setempat, dan juga dengan pemangku kepentingan yang lain untuk bisa melakukan apa pengelolaan ekosistem yang lebih komprehensif di kami," lanjut dia.
Menurut Kukuh, terdapat sejumlah tantangan utama dalam menjaga ekosistem Papua. Salah satunya berkaitan dengan kondisi alam yang memiliki karakter sangat beragam.
Wilayah kerja Freeport Indonesia di Timika, Papua, berada di kawasan yang berdekatan dengan Taman Nasional Lorentz. Area tersebut memiliki 14 tipe ekosistem dengan bentang ketinggian mulai dari 0 meter di atas permukaan laut (mdpl) hingga 4.200 mdpl.
Kondisi geografis tersebut membuat pengelolaan lingkungan memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi.
"Jadi Timika itu cukup unik. Dia 50 km datar, kemudian sangat terjal. Jadi secara topografis, secara natural tantangannya sangat kompleks," ungkap dia.
Tantangan berikutnya adalah ketersediaan data yang menjadi dasar dalam menjaga dan memulihkan ekosistem. Salah satu penerapannya terlihat dalam kegiatan penanaman kembali pohon pada area yang mengalami kerusakan.
Load more