Bahlil Ungkap Investasi PLTS 100 GW Tembus Rp1.306 Triliun, Ditarget Rampung 3 Tahun
- tim tvOne
Jakarta, tvOnenews.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkap kebutuhan investasi untuk pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas total 100 gigawatt (GW) mencapai sekitar US$70 miliar hingga US$73 miliar.
Jika dikonversikan menggunakan asumsi kurs Rp17.895,94 per dolar AS, nilai investasi tersebut mencapai sekitar Rp1.252 triliun hingga Rp1.306 triliun.
Program pengembangan PLTS 100 GW tersebut menjadi salah satu program energi hijau yang diandalkan pemerintah Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah menargetkan pembangunan proyek tersebut dapat diselesaikan dalam waktu tiga tahun.
Bahlil menyampaikan rencana tersebut dalam acara MKI Electricity Connect 2026 pada Selasa (22/9/2026). Menurutnya, pengembangan PLTS dengan kapasitas besar menjadi salah satu langkah konkret pemerintah dalam menjalankan komitmen Indonesia terhadap target net zero emission (NZE).
Indonesia Tetap Kejar Target Net Zero Emission
Bahlil mengatakan pemerintah tetap mempertahankan komitmen terhadap target pengurangan emisi meskipun terdapat perubahan komitmen dari sejumlah negara terhadap Paris Agreement.
Ia menyebut Presiden Prabowo telah memberikan arahan agar Indonesia tetap konsisten mengejar target net zero emission yang telah ditetapkan.
"Forum ini menurut saya sangat penting untuk menyampaikan ini. Sekalipun negara-negara lain keluar daripada Paris Agreement untuk net zero emission dengan menggantikan fosil mereka kepada energi baru terbarukan, Bapak Presiden Prabowo memerintahkan kepada kita bahwa Indonesia, sekalipun negara yang hebat-hebat itu keluar, Indonesia tetap akan konsisten untuk memenuhi target net zero emission kita di 2050 sampai dengan 2060," kata Bahlil.
Komitmen tersebut kemudian diterjemahkan pemerintah melalui sejumlah program konkret di sektor ketenagalistrikan. Salah satunya melalui revisi dan implementasi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
Dalam RUPTL tersebut, pemerintah mendorong porsi energi baru terbarukan (EBT) sekaligus menambah kapasitas PLTS hingga 100 GW.
"Caranya apa? Di RUPTL kita-kita dorong 70% adalah energi baru terbarukan dan kita menambah 100 gigawatt PLTS," ujar Bahlil.
Bahlil Sebut Ini Bukan Pasar Kecil
Bahlil menjelaskan kebutuhan investasi untuk membangun PLTS dengan kapasitas total 100 GW telah dihitung oleh Kementerian ESDM.
Nilai investasi yang berada di kisaran US$70 miliar hingga US$73 miliar tersebut menunjukkan besarnya peluang dalam pengembangan energi surya di Indonesia.
Ia menilai skala investasi tersebut membuat proyek PLTS 100 GW menjadi pasar yang besar. Karena itu, pemerintah tidak dapat menjalankan program tersebut sendirian dan membutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak.
"Ini total investasi yang ada. Ini bukan bukan pasar kecil, Bapak Ibu semua. Ini pasar yang sangat besar. Nah, untuk bisa kita melakukan ini, maka harus ada kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pengusaha," kata Bahlil.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam upaya pemerintah merealisasikan pengembangan PLTS berkapasitas besar sesuai target yang telah ditetapkan.
Prabowo Sebut PLTS 100 GW untuk Kemandirian Energi
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyatakan program PLTS 100 GW merupakan bagian dari strategi besar pemerintah untuk memperkuat kemandirian dan swasembada energi Indonesia.
Presiden menyebut Indonesia memiliki kekayaan sumber daya energi yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. Potensi tersebut mencakup tenaga surya, panas bumi, gas, hingga minyak.
Menurut Prabowo, seluruh sumber energi tersebut perlu dimanfaatkan secara terpadu untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat meluncurkan sekaligus melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking Program PLTS 100 GWp di Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali, Selasa, 25 Agustus 2026.
"Intinya 100 gigawatt kita akan benar-benar menjadi bangsa yang berdiri di atas kaki kita sendiri! Kita tidak akan takut perkembangan apa pun di bagian mana pun dunia," ujar Prabowo.
PLTS 100 GW dan Upaya Kurangi Impor Energi
Prabowo juga menekankan bahwa pengembangan energi surya tidak berdiri sendiri. Pemerintah akan mengoptimalkan berbagai sumber energi yang tersedia di dalam negeri.
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi panas bumi, cadangan gas, serta sumber minyak yang harus terus dikembangkan. Pemanfaatan berbagai sumber tersebut diarahkan untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan energi dari luar negeri.
"Dengan 100 gigawatt, dengan geothermal yang kita punya, dengan ladang-ladang gas yang kita sudah ketemukan, dengan lifting minyak yang harus naik terus, kita tidak boleh impor lagi 1 barel pun minyak!" tegas Prabowo.
Load more