Synchronize Fest 2026: Para Musisi Kompak Suarakan Karhutla, dari Doa hingga Sindiran Keras
- Istimewa
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan karhutla bukan sekadar isu yang jauh dari kehidupan penonton, melainkan persoalan lingkungan yang berdampak pada masyarakat dan kondisi hutan Indonesia.
The Jansen dan Barasuara Sampaikan Kritik Lewat Panggung
- Istimewa
Berbeda dari musisi yang menyampaikan pesan melalui ucapan dan doa, The Jansen memilih pendekatan musikal. Band punk asal Bogor itu memelesetkan judul sekaligus lirik lagu mereka, "Langit Tak Seharusnya Biru", menjadi "Langit Tak Seharusnya Berasap".
Aksi tersebut diperkuat visual di layar panggung yang menampilkan kabut asap tebal dan kebakaran lahan. Perubahan lirik itu menghadirkan gambaran tentang kondisi langit dan lingkungan yang terdampak karhutla.
Sementara itu, Barasuara menyampaikan kritik melalui visual panggung saat tampil di District Stage. Band yang dipimpin Iga Massardi tersebut menampilkan tulisan berukuran besar: "Terbakar, Dibakar, Kalimantan, Sumatera".
Kalimat itu menyoroti kebakaran yang melanda dua wilayah tersebut sekaligus mengarahkan perhatian pada persoalan pembakaran hutan dan lahan.Â
Aksi Barasuara menjadi salah satu bentuk penyampaian kritik lingkungan yang paling mencolok dalam pertunjukan hari pertama festival. Pesan tersebut hadir melalui perpaduan musik, visual, dan suasana panggung yang intens.
Beragam cara yang dipilih para musisi memperlihatkan bagaimana Synchronize Fest 2026 menjadi ruang untuk menyampaikan kepedulian terhadap persoalan di luar dunia musik. Dari ajakan berdoa hingga sindiran melalui lirik dan visual, isu karhutla mendapat tempat di hadapan ribuan penonton festival. (muu)
Load more