Gangguan Mata Kerap Tak Disadari, Teknologi Skrining Bantu Kenali Gejalanya Lebih Awal
- Gambar ilustrasi AI
Karena itu, mengurangi waktu menatap layar saja tidak cukup untuk menjaga kesehatan penglihatan. Pemeriksaan berkala diperlukan untuk mengenali kelainan refraksi, seperti miopia atau rabun jauh, hipermetropia atau rabun dekat, serta astigmatisme atau mata silinder.
Menurut WHO, kelainan refraksi yang tidak dikoreksi dapat mengganggu proses belajar anak, mengurangi produktivitas orang dewasa, dan memengaruhi kualitas hidup.
Kondisi tersebut umumnya dapat ditangani dengan alat bantu penglihatan yang sesuai, seperti kacamata atau lensa kontak, berdasarkan hasil pemeriksaan tenaga kesehatan.
Sejumlah negara maju telah mengembangkan pendekatan untuk meningkatkan kesadaran kesehatan mata. Di Amerika Serikat, National Eye Institute menganjurkan aturan 20-20-20 untuk membantu mengurangi kelelahan mata akibat penggunaan layar: setiap 20 menit, alihkan pandangan ke objek berjarak sekitar 20 kaki atau enam meter selama 20 detik.
Sementara itu, Australia menekankan pentingnya aktivitas fisik, pembatasan waktu layar rekreasional, dan kebiasaan tidur yang baik bagi anak serta remaja.
Langkah sederhana tersebut dapat membantu membangun kebiasaan yang lebih sehat. Namun, apabila penglihatan kabur, sakit kepala berulang, atau kesulitan membaca papan di kelas terus terjadi, pemeriksaan mata tetap diperlukan.
Teknologi Skrining Mata Membuka Akses Pemeriksaan Lebih Luas
Teknologi skrining berperan dalam membantu mengidentifikasi orang yang berpotensi mengalami gangguan penglihatan dan membutuhkan pemeriksaan lanjutan.
WHO melalui Vision and Eye Screening Implementation Handbook mendorong pelaksanaan skrining di lingkungan komunitas dan layanan kesehatan primer agar gangguan dapat dikenali lebih awal, termasuk pada anak prasekolah, siswa, dan kelompok lanjut usia.
Pendekatan ini penting karena tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap fasilitas pemeriksaan mata. Skrining yang dilakukan di sekolah atau lingkungan masyarakat dapat membantu menjangkau peserta yang belum pernah memeriksakan penglihatannya atau tidak menyadari adanya perubahan pada mata.
Di Indonesia, kebutuhan tersebut masih relevan. Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa dari sekitar 55 juta penduduk berusia di atas tujuh tahun yang mengikuti skrining kesehatan mata pada 2025, sekitar 17 persen ditemukan mengalami gangguan penglihatan, termasuk miopia, hipermetropia, dan astigmatisme.
Angka tersebut memperlihatkan pentingnya pemeriksaan yang mudah dijangkau masyarakat. Meski demikian, skrining dan diagnosis merupakan dua tahapan berbeda.
Load more