Kini Minta Maaf Sampai Cium Tangan Sutiyoso, Hercules Pernah Dapat Ultimatum Eks Jenderal Kopassus: Dia Harusnya…
- YouTube
tvOnenews.com - Nama Hercules Rosario Marshal kembali jadi sorotan publik usai organisasi yang dipimpinnya, Gerakan Rakyat Indonesia Baru (GRIB) Jaya, terlibat konflik dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Perselisihan ini terkait masalah penguasaan lahan yang diklaim GRIB sebagai milik mereka.
Namun ini bukan pertama kalinya Hercules terseret dalam kontroversi.
Sebelumnya, ia juga sempat dianggap menghina para purnawirawan TNI lewat pernyataan dan sikapnya yang dinilai kurang menghargai jasa para mantan prajurit negara tersebut.
Menyikapi situasi yang kian memanas, Hercules akhirnya mengambil langkah damai.
Ia mendatangi kediaman mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) periode 2015-2016, Jenderal (Purn) Sutiyoso.
Dalam kunjungan tersebut, Hercules menyampaikan permintaan maaf secara langsung.
Dalam video yang beredar luas di media sosial, Hercules tampak mencium tangan Sutiyoso sebagai bentuk penghormatan dan penyesalan.
"Saya minta maaf Bapak, kami ini anak Bapak. Kami ini ada di Indonesia ini karena kami ikut bapak-bapak yang kami ada di sini. Kami setia, kami setia sama Bapak," kata Hercules sambil mencium tangan Sutiyoso.
"Kami sangat senang, sangat luar biasa, kami ini bagian dari anak bapak. Makasih Bapak," tambahnya.
Dalam momen tersebut, Hercules juga menyinggung perannya sebagai anak asuh dari pasukan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
Ia menyatakan bahwa berkat didikan dari pasukan baret merah itulah dirinya bisa berada dan hidup di Indonesia.
Menurutnya, dari Kopassus, ia belajar arti penting loyalitas, kejujuran, dan kesetiaan.
Namun sebelum permintaan maaf ini terjadi, Hercules sempat mendapatkan ultimatum keras dari Letjen TNI (Purn) Yayat Sudrajat.
Yayat adalah mantan perwira tinggi Kopassus sekaligus pernah menjabat sebagai Dansatgas Intelijen di Timor Timur.
Dalam pernyataannya di kanal YouTube Hersubeno Point, Yayat secara blak-blakan menyampaikan bahwa Hercules seharusnya tidak lagi tinggal di wilayah seperti Jawa Barat, tempat yang dihormati oleh para pejuang dan tokoh masyarakat.
"Dia (Kang Dedi Mulyadi) orang Jawa Barat, kalau sekarang si, punten ya, si Hercules ini, apa dia, apa dia, harusnya balik, kalau perlu dia balik ke Timor Timur sana," kata Yayat dengan nada tegas.
Yayat menilai bahwa Hercules belum memberikan kontribusi nyata kepada bangsa dan negara.
Bahkan, sebaliknya, organisasi yang dipimpinnya justru kerap menimbulkan keresahan masyarakat dengan praktik-praktik yang menyimpang dari nilai-nilai ormas sejati.
"Sekarang merasa hebat aja dengan punya organisasi padahal organisasinya bener enggak ormas itu. Harusnya kan ormas itu justru membela kepentingan rakyat, bukan menakut-nakuti rakyat, bukan menindas rakyat, mengintimidasi rakyat, demi untuk mendapatkan uang dari yang bayar dia," lanjut Yayat dengan nada menyindir.
Yayat bahkan membandingkan Hercules dengan Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat yang menurutnya sangat peduli terhadap nasib rakyat kecil.
Ia menyebut Dedi Mulyadi sebagai figur yang benar-benar mengerti penderitaan rakyat dan melakukan blusukan untuk mencari solusi nyata.
"Dedi Mulyadi itu bukan main kalau menurut saya, apa yang dia lakukan, dia tahu persis bagaimana penderitaan rakyat kecil, bagaimana susahnya rakyat, makanya dia terus blusukan itu betul-betul untuk mencari solusi bagaimana mensejahterakan rakyat," puji Yayat.
Langkah Hercules menemui Sutiyoso dipandang sebagian kalangan sebagai bentuk meredakan ketegangan dan mengembalikan hubungan baik dengan tokoh-tokoh militer.
Meskipun menyatakan diri sebagai anak didik Kopassus, publik dan para purnawirawan masih menunggu apakah langkahnya ke depan benar-benar mencerminkan nilai-nilai yang ia akui pernah dipelajari dari pasukan elite TNI tersebut. (adk)
Load more