Siapa Sih Sebenarnya Gus Elham Kediri yang Viral Cium Bibir Anak di Bawah Umur? Ternyata Kelahiran 2001 dan Dulunya …
- YouTube @ernasitaofficial
tvOnenews.com - Mohammad Elham Yahya Luqman, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Gus Elham Yahya, mendadak menjadi sorotan publik di media sosial pada awal November 2025.
Penceramah muda asal Kediri, Jawa Timur, ini viral setelah beberapa video dan foto dirinya mencium anak kecil saat mengisi pengajian beredar luas.
Dalam salah satu cuplikan, ia terlihat mencium bibir seorang anak perempuan yang mengenakan kerudung merah, sementara di video lain, ia memasukkan pipi balita ke dalam mulutnya di depan jamaah.
Tindakan ini menuai kecaman keras dari netizen, yang menilainya sebagai bentuk pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur, meskipun dilakukan atas nama "barokah" atau kasih sayang.
Profil dan Latar Belakang Gus Elham

Gus Elham. (Sumber: Tangkapan Layar)
Gus Elham lahir pada 8 Juli 2001 di Desa Kaliboto, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Saat ini, usianya baru 24 tahun.
Ia berasal dari keluarga ulama besar yang sangat dihormati di kalangan Nahdliyin Kediri.
Ayahnya, KH Luqman Arifin Dhofir, adalah pengasuh Pondok Pesantren Al-Ikhlas 1 di Kaliboto. Sementara kakeknya, KH Mudhofir Ilyas, merupakan pendiri pondok pesantren tersebut.
Sejak kecil, Gus Elham tumbuh di lingkungan pesantren yang kental dengan tradisi keagamaan.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia melanjutkan studi di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri yang merupakn salah satu pesantren tertua dan berpengaruh di Indonesia.
Di sana, ia menimba ilmu agama yang menjadi bekal utamanya untuk berdakwah.
Kini, meski masih muda, Gus Elham dipercaya sebagai pengasuh Pondok Pesantren Al-Ikhlas 2 di desa kelahirannya.
Ia juga memimpin Majelis Taklim Ibadallah, yang memiliki banyak pengikut dari kalangan anak muda berkat gaya dakwahnya yang santai, humoris, dan modern.
Sebelum kontroversi ini, ia dikenal sebagai dai muda yang dekat dengan jamaah, bahkan pernah berdakwah hingga ke Taiwan.
Kronologi Kontroversi Viral
Kontroversi bermula ketika video dan foto Gus Elham mencium anak kecil saat pengajian menyebar di platform seperti X (Twitter), TikTok, dan Instagram pada akhir Oktober hingga awal November 2025.
Dalam salah satu video, ia terlihat memeluk dan mencium anak perempuan secara berulang, bahkan ada yang tampak seperti ciuman di bibir. Ada pula rekaman di mana ia "menyedot" pipi balita hingga terdengar suara.
Netizen ramai mengecam, menyebut tindakan ini tidak pantas untuk seorang pemuka agama.
Banyak yang khawatir tentang risiko kesehatan anak, seperti penularan penyakit dari ciuman sembarangan, apalagi Gus Elham dikenal sebagai perokok.
Beberapa bahkan membuat template di Instagram untuk menuntut proses hukum atas dugaan pelecehan.
Tokoh seperti Gus Nadir dan Nadirsyah Hosen ikut menegur keras, menyebut ini sebagai grooming behavior yang berbahaya dan tidak boleh dinormalisasi atas nama barokah.

Viral Video Ciumi Anak Kecil dan Dituding Pelecehan, Gus Elham. (Sumber: Instagram)
Klarifikasi Gus Elham
Menanggapi hujatan, Gus Elham angkat bicara dalam sebuah video ceramah yang beredar pada 1 November 2025.
Ia menyebut tudingan pelecehan sebagai fitnah dan mengatakan, Menghina tidak membuatmu terlihat mulia. Menghina sama sekali tidak akan membuat kita mulia," tegas Gus Elham, dikutip dari YouTube @SantriAsik_94
Ia mengaku tindakannya hanya bentuk kasih sayang, tapi mengakui "sampai enek" (sampai muak) dengan kritik yang datang.
Meski begitu, kritik tetap mengalir. Kyai Lora Ismail dari Bangkalan bahkan menegur secara terbuka, menyebut dakwah Gus Elham terlalu banyak gimmick dan berpotensi membuka pintu pelecehan.
Gus Elham Yahya adalah penceramah muda berbakat dari garis keturunan ulama Kediri, yang dulunya santri Lirboyo dan kini meneruskan warisan keluarga melalui pesantren dan majelis taklim.
Namun, gaya dakwahnya yang ekspresif kini menjadi bumerang, memicu perdebatan tentang batas interaksi dengan anak kecil.
Kasus ini menjadi pengingat penting bagi tokoh agama, yaitu kasih sayang harus disertai adab dan perlindungan anak, bukan sensasi yang berisiko.
Publik terus menunggu tanggapan lebih lanjut dari pihak berwenang, seperti KPAI atau Kementerian Agama, untuk menjaga marwah dakwah di era digital.
(anf)
Load more