Bangga dengan Paspor WNA, Helmi Yahya Menangis Melihat Dwi Sasetyaningtyas: Orang Pintar Sepertimu, Bantu Negerimu Ini
- Kolase tvOnenews.com/ Tangkapan Layar YouTube Helmy Yahya Bicara
tvOnenews.com - Setelah mengucapkan ‘Cukup aku yang WNI, anak-anakku jangan’ viral di media sosial, alumni penerima beasiswa LPDP Dwi Sasetyaningtyas atau Tyas menjadi perbincangan netizen.
Melalui video yang diunggah di media sosial, Dwi Sasetyaningtyas merasa bangga dengan memamerkan paspor anaknya yang berwarga negara asing (WNA) dari Inggris.
Akibatnya, konten miliknya viral dan menjadi polemik hebat. Banyak pihak yang menyayangkan pernyataannya tersebut, salah satunya Helmi Yahya.
Seorang entertainer, Helmy Yahya mengaku sebagai penerima beasiswa dari World Bank melalui Departemen Keuangan tahun 1991.
Ketika menerima beasiswa dari negara, maka setiap orang menandatangani perjanjian kontrak bahwa setelah sekolah harus mengabdi pada negara.
“Seperti saya tahun 1991, kita menandatangani perjanjian kontrak bahwa setelah selesai kita sekolah harus mengabdi ke Indonesia, 2N + 1. Kalau dulu kuliahnya 2 tahun, artinya 2x2+1 artinya 5 tahun,” ungkap Helmy Yahya pada tayangan YouTube Helmy Yahya Bicara.
Sewaktu bersekolah di Miami, Amerika Serikat ia hanya bersekolah selama 10 bulan atau 1 tahun. Maka dalam waktu 3 tahun mengabdi pada negara, selanjutnya sudah terbebas dari kontrak.
Menurutnya, hal ini cukup adil karena untuk menyekolahkan seseorang ke luar negeri menghabiskan uang hingga miliaran rupiah.
“Jadi cukup fair lah karena kuliah di luar negeri kan menghabiskan uang miliaran. Jadi menurut saya, termasuk saya, kita harus berterima kasih,” ujarnya.

- Instagram @sasetyaningtyas
Namun, mantan Direktur Utama LPP TVRI ini mengingatkan bahwa uang dipakai untuk beasiswa merupakan uang rakyat yang dikumpulkan melalui pajak.
“Dan ingat ya, uang yang kita pakai ini adalah uang rakyat yang dikumpulkan dari pajak. Jadi jangan merasa ‘ah ini kan uang negara’. No, uang rakyat!” tegas Helmy.
Oleh karena itu, ia sangat menyesalkan dengan ucapan Dwi Sasetyaningtyas yang sangat bangga bahwa anaknya mendapatkan kewarganegaraan Inggris.
“Kita sangat menyesalkan, Dwi Sasetyaningtyas. Nggak ada masalah mau anaknya jadi warga negara manapun,” tuturnya.
“Tapi ucapannya, ‘cukup saya saja yang WNI, anak saya jangan’. Haduh Dwi, saya mendengarmu bicara begini, dengan muka berbinar-binar setelah dapat surat dari home office-nya Inggris itu, gimana gitu ya,” sambungnya.
Sebagai seorang yang memiliki rasa nasionalisme, ia sangat terganggu dengan kata-kata konten kreator itu.
Menurutnya, justru orang-orang pintar penerima beasiswa seperti Tyas bisa membantu negerinya menjadi lebih baik lagi.
“Jadi sorry ini pribadi, nasionalisme saya terganggu. Jangan lah bicara begitu,” sindir adik Tantowi Yahya itu.
“Kita tahu Indonesia lagi ada banyak masalahnya. Justru orang pintar seperti kamu, seperti suamimu, seperti awardee-awardee dari LPDP dan beasiswa-beasiswa yang lain bantulah negerimu ini,” lanjutnya berharap.
Sebagai warga negara Indonesia (WNI), menurutnya kita harus bersyukur karena bisa menjadi tempat untuk pulang dan tempat pertama kali melihat dunia.
Memang menurutnya ada banyak persoalan yang terjadi di Tanah Air, namun alangkah baiknya diselesaikan bersama.
“Jadi ingat kata orang, right or wrong, it's my country. Jadi mau salah atau betul, ini negaraku. Inilah Indonesiaku. Disini kita dilahirkan, disini kita pertama kali melihat dunia, disini kita dibesarkan. Walaupun persoalan kita banyak, tetapi kita harus bersyukur,” jelas Helmy Yahya.
“Justru karena kita punya banyak persoalan, mari kita selesaikan,” pungkasnya.
Terkait dengan isu tersebut, pihak Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) sedang melakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan memanggil suami Dwi Sasetyaningtyas, Arya Irwanto.
Disisi lain, pihak LPDP mengklarifikasi bahwa Dwi Sasetyaningtyas telah menyelesaikan studi magisternya pada 31 Agustus 2017 dan sudah memenuhi seluruh kewajiban masa pengabdian sesuai aturan yang berlaku.
(kmr)
Load more