Siapa Saja 3 Dewan Kepemimpinan Sementara Iran Setelah Khamenei Wafat? Ini Sosoknya!
- Instagram/tehrantimes79
tvOnenews.com - Pasca meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akibat serangan gabungan Israel-Amerika Serikat, situasi politik di Iran langsung memasuki babak baru.
Pemerintah Iran dengan cepat membentuk Dewan Kepemimpinan Sementara yang terdiri dari tiga orang tokoh penting.
Dewan ini ditugaskan untuk menjalankan pemerintahan hingga pemimpin tertinggi baru ditetapkan.
Langkah ini sesuai dengan Pasal 111 Konstitusi Iran, yang menyebut bahwa jika posisi Pemimpin Tertinggi kosong karena kematian, pengunduran diri, atau ketidakmampuan permanen, maka Dewan Kepemimpinan Sementara akan mengambil alih tugas kepemimpinan tertinggi.
Dewan tersebut terdiri dari Presiden, Ketua Mahkamah Agung, dan anggota Dewan Penjaga. Ketiganya saat ini adalah Masoud Pezeshkian, Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, dan Ayatollah Alireza Arafi.
1. Ayatollah Alireza Arafi
Sosok pertama dalam dewan ini adalah Ayatollah Alireza Arafi, tokoh ulama berpengaruh yang telah menjadi anggota Dewan Penjaga (Guardian Council) sejak tahun 2019.
Dewan tersebut memiliki peran vital dalam sistem politik Iran karena bertugas memeriksa seluruh undang-undang dan kebijakan agar sejalan dengan prinsip-prinsip Islam.
Sebagai anggota Dewan Penjaga, Arafi memiliki wewenang untuk menolak rancangan undang-undang yang dianggap bertentangan dengan syariat Islam.
Selain itu, lembaga ini juga berperan dalam menyaring calon presiden dan anggota parlemen yang akan maju dalam pemilihan umum.
Arafi juga menjabat sebagai wakil ketua Majelis Pakar, lembaga yang memiliki tanggung jawab utama dalam memilih dan mengawasi Pemimpin Tertinggi Iran.
Di luar aktivitas politik, ia dikenal luas di kalangan ulama karena memimpin salat Jumat di kota Qom, pusat pendidikan keagamaan terpenting di Iran.
Sebagai pemimpin sistem seminari nasional, ia juga berperan besar dalam mencetak generasi baru ulama Syiah.
2. Masoud Pezeshkian

- Anadolu
Tokoh berikutnya adalah Masoud Pezeshkian, Presiden Iran yang terpilih pada pemilihan umum tahun 2024.
Pria berusia 71 tahun ini dikenal sebagai politikus reformis dan juga seorang ahli bedah jantung.
Pezeshkian pernah bertugas di militer selama perang Iran dan menjabat sebagai Menteri Kesehatan di masa pemerintahan Presiden Mohammad Khatami.
Setelah tahun 2005, ia menjabat sebagai anggota parlemen yang mewakili kota Tabriz di barat laut Iran.
Dalam karier politiknya, Pezeshkian kerap menyuarakan reformasi sosial dan ekonomi.
Ia berkomitmen untuk melonggarkan kebijakan sosial dalam negeri serta memperbaiki hubungan luar negeri tanpa meninggalkan nilai-nilai revolusi Islam.
Dalam menanggapi pembunuhan Khamenei, Pezeshkian menyampaikan pernyataan keras bahwa Iran memiliki hak penuh untuk membalas serangan tersebut.
"Republik Islam Iran menganggapnya sebagai tugas dan hak yang sah untuk membalas para pelaku dan dalang kejahatan bersejarah ini,” tegasnya dalam pidato resminya.
3. Gholam-Hossein Mohseni-Ejei
Anggota ketiga dewan ini adalah Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, pemimpin tertinggi lembaga peradilan Iran sejak 2021.
Ia merupakan seorang ulama senior dan dikenal sebagai tokoh garis keras yang loyal terhadap pemerintahan konservatif Iran.
Sebelum menjabat sebagai Ketua Mahkamah Agung, Mohseni-Ejei pernah menduduki posisi penting lainnya, seperti Menteri Intelijen (2005–2009), Jaksa Agung, dan Wakil Ketua Hakim Pertama.
Dalam beberapa pernyataannya, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan memberi kelonggaran terhadap siapa pun yang dianggap mengancam stabilitas negara.
Kini, bersama Pezeshkian dan Arafi, Mohseni-Ejei menjadi bagian penting dari Dewan Kepemimpinan Sementara Iran yang bertugas menjaga stabilitas politik dan memastikan transisi kekuasaan berjalan sesuai dengan konstitusi di tengah situasi perang dan tekanan internasional yang memanas. (adk)
Load more