5 Dampak Besar Penutupan Selat Hormuz bagi Indonesia, dari Harga BBM hingga Ekonomi Nasional
- Freepik
tvOnenews.com - Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel membuat kawasan Selat Hormuz kembali menegang sejak 28 Februari 2026.
Pasukan Iranian Revolutionary Guard Corps (IRGC) bahkan sempat memperingatkan kapal-kapal untuk tidak melintas di jalur tersebut demi alasan keamanan.
Walau belum ada pengumuman resmi penutupan permanen, kondisi ini sudah cukup mengguncang pasar energi global.
Selat Hormuz adalah jalur vital yang dilalui sekitar 20 juta barel minyak per hari, atau hampir seperlima dari total pasokan minyak dunia, menurut data U.S. Energy Information Administration (EIA).
Jika benar-benar ditutup, dampaknya akan terasa hingga ke Indonesia lantaran masih sangat bergantung pada impor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah. Berikut lima dampak besar yang mungkin terjadi.
1. Harga Minyak Melonjak, BBM Terancam Naik
Penutupan Selat Hormuz akan langsung memicu lonjakan harga minyak dunia.
Pasokan global yang terganggu bisa mendorong harga minyak mentah menembus kisaran 100 hingga 150 dolar AS per barel.
Bagi Indonesia, yang sebagian besar kebutuhan energinya masih dipenuhi lewat impor, situasi ini akan menjadi pukulan berat bagi anggaran negara.
Pemerintah dihadapkan pada dua pilihan sulit: menambah subsidi BBM atau menaikkan harga jual bahan bakar di dalam negeri.
Keduanya membawa konsekuensi serius. Jika harga BBM naik, maka biaya transportasi dan produksi meningkat, memicu inflasi di berbagai sektor.
Sedangkan jika subsidi ditambah, beban APBN akan melonjak drastis.
2. Inflasi Meningkat, Daya Beli Masyarakat Melemah
Kenaikan harga energi biasanya berimbas pada meningkatnya harga barang dan jasa.
Biaya logistik melonjak, bahan pokok naik, dan ongkos transportasi pun bertambah mahal.
Akibatnya, daya beli masyarakat menurun karena pengeluaran harian meningkat.
Inflasi yang tinggi bisa menggerus konsumsi rumah tangga, padahal sektor ini merupakan motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Jika pemerintah tidak segera menyalurkan bantuan sosial atau mengendalikan harga pangan, tekanan sosial dan ekonomi bisa semakin membesar.
3. Nilai Tukar Rupiah Semakin Tertekan
Lonjakan harga energi global juga akan memperlemah nilai tukar rupiah.
Kebutuhan impor minyak yang meningkat membuat permintaan terhadap dolar AS naik, sementara cadangan devisa terkuras untuk pembayaran impor.
Kondisi ini berisiko menekan rupiah hingga melemah tajam terhadap dolar.
Rupiah yang melemah akan memperbesar biaya impor bahan baku industri, meningkatkan harga produk lokal, dan menurunkan daya saing ekspor.
Selain itu, investor asing bisa menarik modalnya dari pasar Indonesia, menimbulkan gejolak di sektor keuangan.
Dalam situasi seperti ini, Bank Indonesia mungkin terpaksa menaikkan suku bunga untuk menahan tekanan, meski berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi.
4. Risiko terhadap Stabilitas Ekonomi dan APBN
Tekanan terhadap APBN menjadi tak terelakkan. Pemerintah harus menyesuaikan belanja negara, antara lain dengan mengalokasikan dana tambahan untuk subsidi energi.
Di sisi lain, pendapatan negara berpotensi berkurang karena perlambatan ekonomi.
Krisis berkepanjangan bisa memaksa pemerintah mengalihkan anggaran pembangunan dan program sosial ke sektor energi, demi menjaga stabilitas fiskal.
Kondisi ini akan menghambat proyek infrastruktur dan pembangunan jangka panjang.
5. Ancaman terhadap Ketahanan Energi Nasional
Penutupan Selat Hormuz menjadi sinyal betapa rentannya ketahanan energi Indonesia terhadap krisis global.
Ketergantungan tinggi pada impor minyak dan gas dari Timur Tengah membuat Indonesia sangat mudah terguncang oleh konflik geopolitik.
Krisis semacam ini menegaskan pentingnya percepatan transisi energi dan diversifikasi sumber pasokan.
Pemerintah perlu memperkuat cadangan energi strategis nasional, mengembangkan energi baru terbarukan (EBT), dan menjalin kerja sama energi dengan negara-negara di luar kawasan Timur Tengah.
Kemandirian energi menjadi kunci agar Indonesia lebih tangguh menghadapi gejolak global. (adk)
Load more