Penuh Haru, Dedi Mulyadi Puji Gibran, Putra Siska yang Berjanji Mandiri Sejak Dini
- Kolase tvOnenews.com / YouTube Kang Dedi Mulyadi
tvOnenews.com - Momen penuh haru terjadi saat Dedi Mulyadi memuji Gibran, putra Siska, yang berjanji untuk mandiri sejak dini dan tidak ingin merepotkan orang tuanya.
Sosok kecil itu berhasil mencuri perhatian Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi karena ketegaran dan sikap dewasanya di tengah keterbatasan hidup.
Dedi Mulyadi mengungkapkan rasa kagumnya kepada Gibran. Ia menyebut anak tersebut memiliki tekad kuat untuk membantu ibunya yang selama ini berjuang seorang diri.
![]()
Dedi Mulyadi menyapa Gibran, Putra Siska. (Sumber: YouTube Kang Dedi Mulyadi)
“Gibran putra keren, Teh Siska. Berjanji tidak akan merepotkan orang tua. Mereka luar biasa, mampu bertahan di tengah kegetiran hidup,” tulis Dedi Mulyadi dalam unggahan media sosialnya.
Kisah ini bermula saat pertemuan pertama Siska dengan Dedi Mulyadi di Matahari Department Store ketika sang gubernur tengah berbelanja pakaian Lebaran.
Sebelumnya, Dedi Mulyadi juga bertemu dengan Hasna dan Hasni, dua karyawati tunarungu yang viral di media sosial karena diterima bekerja di sana.
Siska diketahui merupakan rekan kerja mereka yang juga seorang penyandang disabilitas.
Dalam pertemuan tersebut, Dedi Mulyadi menawarkan bantuan kepada Siska untuk membelikan pakaian baru bagi orang tua dan anaknya.
Diketahui, Siska adalah seorang janda yang harus menghidupi keluarga kecilnya seorang diri.
Beberapa waktu kemudian, dalam unggahan YouTube Dedi Mulyadi pada 22 Maret 2026, terlihat Hasna, Hasni, Adel, dan Siska berkunjung ke Gedung Pakuan bersama keluarga mereka untuk bersilaturahmi.
Siska datang bersama putranya, Gibran, yang langsung disambut hangat oleh Dedi Mulyadi.
“Ini anaknya yang kemarin itu, yang pemain sepak bola itu,” sapa Dedi Mulyadi.
Setelah berbincang santai dan makan bersama, Dedi Mulyadi mulai memberikan nasihat kepada Siska dan anaknya. Ia juga menyinggung soal kondisi keluarga Siska dengan bijak.
“Kamu enggak boleh dendam, dan nanti enggak boleh menceritakan bahwa ayahnya tidak pernah mengirim uang, tidak pernah bertanggung jawab, tidak boleh,” kata Dedi Mulyadi.
“Ito garis takdir yang harus diterima, yang penting anaknya sehat, bisa sekolah,” lanjutnya.
Perhatian Dedi Mulyadi kemudian beralih kepada Gibran. Ia menanyakan aktivitas sang anak, termasuk soal hobi bermain sepak bola.
“Sudah beli sepatu bolanya belum?” tanya Dedi Mulyadi.
Gibran menjawab bahwa ia sudah memiliki dua pasang sepatu bola. Satu digunakan saat berkunjung ke Gedung Pakuan, sementara satu lagi disimpan di rumah.
Ia juga mengaku bermain di klub sepak bola di kawasan Batununggal, yakni Adeska, dengan iuran Rp10 ribu per bulan yang dibayarkan oleh sang nenek.
Tak hanya itu, Dedi Mulyadi juga menanyakan kebiasaan jajan Gibran sehari-hari.
“Bisa enggak kalau enggak jajan? Uangnya ditabung saja. Sebulan jadi Rp150 ribu, setahun jadi Rp1,8 juta, kan hebat. Ibu kamu tidak capek,” ujarnya memberi motivasi.
Ia kemudian menambahkan nasihat penuh makna kepada Gibran.
“Semangat, kamu tidak boleh manja. Ibumu susah mencari uang, bekerja keras, kamu harus menjadi anak hebat,” kata Dedi Mulyadi.
“Ya, kamu belajar bola, belajar dagang, oke. Karena ibu kasihan,” lanjutnya.
Mendengar nasihat tersebut, Gibran yang awalnya tampak percaya diri perlahan meneteskan air mata.
Namun, di sisi lain, Siska justru tersenyum melihat respons sang anak yang mulai memahami perjuangan hidup mereka.
Momen tersebut menjadi bukti bahwa di balik keterbatasan, terdapat kekuatan dan keteguhan hati yang luar biasa.
Sosok Gibran dan Siska pun menjadi inspirasi banyak orang tentang arti perjuangan, ketulusan, dan harapan di tengah kehidupan yang tidak mudah.
(anf)
Load more