Di Hadapan ASN Pemprov Jabar, Dedi Mulyadi Sebut Dirinya Gubernur Pinggiran
- YouTube LEMBUR PAKUAN CHANNEL
Istilah “gubernur pinggiran” pun ia jelaskan dengan gamblang di hadapan para ASN.
“Gubernur pinggiran adalah gubernur yang ada di pinggir kampung, gubernur yang ada di pinggir kali, gubernur yang ada di pinggir pantai, gubernur yang ada di pinggir jalan, di pinggir hutan, di seluruh pinggir-pinggir itu,” jelasnya.
Menurutnya, pendekatan tersebut penting agar kebijakan pemerintah tidak terjebak dalam konsep yang terlalu teoritis.
“Apa sih kepentingannya? Kepentingannya satu, Pak. Selama ini provinsi itu terlalu akademis. Selama ini provinsi itu terlalu imajinatif. Karena terlalu akademis, terlalu imajinatif, itu tidak sesuai dengan tuntutan publik yang semakin terbuka,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa sebagai pemimpin yang dipilih rakyat, gagasan harus bersifat nyata dan menyentuh kebutuhan masyarakat.
“Karena gubernur sampai saat ini masih dipilih oleh rakyat, maka gagasannya tidak boleh imajinatif, tapi gagasannya harus real. Karena dia dipilih oleh manusia yang membutuhkan tangan, membutuhkan perumahan, membutuhkan kesehatan, membutuhkan pendidikan, dan membutuhkan kebahagiaan,” lanjutnya.
Dalam kesempatan itu, Dedi Mulyadi juga memperkenalkan konsep manajemen sederhana yang ia sebut sebagai “Pok, Pek, Prak”.
“Nah, seluruh rangkaian itu harus ditempuh dengan cara-cara taktis. Cara taktis itu ada kalimat manajemen Sunda. Jadi, belajar manajemennya enggak usah jauh-jauh banget. Manajemen Sunda itu sederhana, Pok, Pek, Prak. Pok, Pek, Prak itu sebuah manajemen yang lebih mengutamakan pekerjaan daripada pembicaraan,” jelasnya.
Selain berbicara soal kepemimpinan, ia juga sempat menyinggung gaya hidup sehat berdasarkan pengalaman keluarga.
“Sebelum orang mengenal dunia yang disebut dengan vegetarian, kita sudah lala berubah dari dulu. Kita sudah jauh. Makanya orang yang ingin sehat itu sederhana, laksanakan saja sebuah tradisi leluhur orang tuamu, dia akan tumbuh hidupnya jadi sehat,” tuturnya.
“Saya mengikuti tradisi ibu saya. Saat meninggal di usia 80-an, ibu saya enggak ada satu pun giginya yang copot. Bapak saya juga sama. Bapak saya meninggal 92, hidupnya sederhana,” sambungnya.
Ia menambahkan, pola hidup sederhana seperti membatasi garam, menghindari terasi, serta lebih banyak mengonsumsi makanan kukus dan pepes menjadi kunci kesehatan keluarganya.
Load more