Pantas Kades Menolak Keras Penjagaan Jembatan Cirahong Dihentikan Dedi Mulyadi, Penghasilannya Fantastis
- YouTube/KANGDEDIMULYADICHANNEL
"Ada paguyubannya yang mengkoordinir petugas-petugas relawan yang bertugas, bergiliran 10 hari dari desa Margaluyu dan desa Cilangkap. Dari desa Margaluyu dan Cilangkap sebanyak 20 orang, shift pagi, siang, dan malam. Artinya ada 40 orang petugas relawan ketika kebijakan ini diberlakukan yang kena dampaknya," ujar Kades Margaluyu.
Aktivitas ini disebut sebagai bentuk kepedulian warga untuk menjaga kelancaran lalu lintas dan mencegah kecelakaan di jembatan yang relatif sempit.
Namun di balik alasan sosial tersebut, muncul fakta lain yang turut menjadi sorotan.
Penjagaan di jembatan itu diduga memberikan penghasilan yang tidak sedikit bagi para relawan.
Dari perhitungan sederhana, jika satu pengendara motor memberikan Rp1.000 dan dalam satu jam ada sekitar 30 kendaraan yang melintas, maka potensi pemasukan bisa mencapai Rp30.000 per jam.
Jika dikalikan dalam satu hari penuh, angka tersebut bisa mencapai Rp720.000. Dalam sebulan, total penghasilan yang diperoleh bahkan bisa menyentuh angka sekitar Rp21,6 juta.
Nominal ini tentu tergolong besar, terutama untuk aktivitas yang sebelumnya dianggap sebagai kerja sukarela.
Inilah yang kemudian memunculkan dugaan bahwa penolakan terhadap kebijakan penghentian penjagaan bukan hanya soal keselamatan lalu lintas, tetapi juga berkaitan dengan hilangnya sumber penghasilan warga.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Jawa Barat tetap bersikukuh bahwa segala bentuk pungutan di fasilitas umum tidak dibenarkan.
Dedi Mulyadi menegaskan bahwa jalan dan jembatan adalah milik publik yang harus bebas diakses tanpa biaya tambahan.
Langkah penataan ini juga diiringi dengan upaya perbaikan fasilitas, mulai dari pengecatan jalan, pemasangan rambu, hingga peningkatan sistem keamanan agar jembatan tetap aman dilalui tanpa perlu keterlibatan pungutan dari warga. (adk)
Load more