Buntut Viral Acungkan Jari Tengah ke Guru Hingga Disorot Dedi Mulyadi, Puluhan Siswa SMAN 1 Purwakarta Minta Maaf
- Instagram @infojawabarat
tvOnenews.com - Setelah aksinya mengacungkan jari tengah terhadap guru viral hingga menjadi sorotan Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi, puluhan siswa SMAN 1 Purwakarta akhirnya meminta maaf.
Sebelumnya, sebuah video viral di media sosial yang menayangkan sejumlah siswa SMAN 1 Purwakarta melakukan perbuatan tak terpuji terhadap guru mereka.
Saat ibu guru mereka hendak meninggalkan kelas usai kegiatan belajar mengajar, seorang siswa terlihat mengacungkan jari tengah di belakang sang guru.
Gerakan tersebut lantas ditirukan oleh sejumlah siswa lainnya. Bahkan terdapat siswa yang mencium tangan sang guru, namun setelah berlalu ia melakukan hal serupa kepada guru tersebut.
Akibatnya, video tersebut memicu amarah publik khususnya para netizen di media sosial hingga menimbulkan berbagai reaksi.
Para siswa yang terlibat dalam aksi tersebut mendapatkan sanksi berupa skorsing selama 19 hari.
Kini, para siswa yang terlibat menyampaikan permohonan maaf kepada guru tersebut secara terbuka melalui media sosial.
Video permintaan maaf tersebut diunggah oleh salah satu akun Instagram @yantovharay_12, pada Sabtu (18/4/2026).
“Perkenalkan saya Nabila, perwakilan dari kelas 11 IPS memohon maaf yang sebesar-besarnya terutama kepada Ibu S, kepada Kepala Sekolah beserta guru-guru dan alumni,” ungkap salah satu perwakilan siswa.
“Saya mengakui tindakan yang sudah kami lakukan itu tidak pantas kepada ibu guru kami yaitu ibu S. kami memohon maaf yang sebesar-besarnya,” sambungnya.
Dedi Mulyadi Soroti Aksi Siswa SMAN 1 Purwakarta
- YouTube
Tak hanya publik, aksi viral ini juga mendapat sorotan dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Setelah aksinya mengolok-olok guru, para siswa mendapat sanksi berupa skorsing dari sekolah.
Namun, Kang Dedi Mulyadi (KDM) menyebut hukuman tersebut dapat diganti dan memberikan saran kepada pihak sekolah.
“Saya cukup prihatin dengan peristiwa tersebut. Kronologinya sudah saya dengarkan paparan dari Kepala Dinas Pendidikan,” ungkap Dedi Mulyadi pada akun Instagramnya @dedimulyadi71.
Dedi Mulyadi menyarankan agar hukuman dapat diberikan kepada para siswa namun sambil mengikuti pembelajaran di sekolah.
Ia menyarankan hukuman seperti membersihkan toilet hingga halaman sekolah dalam jangka waktu tertentu.
“Ini saya memberikan saran, anak itu tidak perlu di skorsing selama 19 hari. Mudah-mudahan sarannya bisa digunakan, tapi diberikan hukuman membersihkan halaman sekolah, menyapu setiap hari dan membersihkan toilet,” ujarnya.
“Waktunya bisa satu bulan, dua bulan, atau tiga bulan, tergantung perkembangan anak itu sendiri,” sambungnya.
(kmr)
Load more