Blak-blakan ke Dedi Mulyadi, Bagas Ungkap Rahasia Bertahan dari Kanker Stadium 4
- Kolase tvOnenews.com / YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL
tvOnenews.com - Sosok Dedi Mulyadi kembali menjadi sorotan setelah momen mengharukan yang tak terduga. Di tengah aktivitasnya merapikan jalan, ia justru dipertemukan dengan seorang anak kecil yang menyimpan kisah perjuangan luar biasa.
Bukan sekadar pertemuan biasa, percakapan ini berubah menjadi cerita penuh haru tentang harapan hidup di tengah penyakit mematikan.
Dedi Mulyadi yang menyebut dirinya sebagai “gubernur pinggiran” memang dikenal kerap turun langsung ke lapangan. Saat berada di sekitar Rumah Sakit Hasan Sadikin, ia dihampiri seorang anak berusia 11 tahun bersama ibunya. Anak tersebut bahkan secara spontan mengaku bahwa Dedi adalah idolanya.
![]()
Dedi Mulyadi, Ibu Asal Sukabumi, dan Bagas. (Sumber: YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL)
Dari pertemuan itu terungkap bahwa anak bernama Bagas tersebut tengah berjuang melawan kanker darah stadium 4 sejak usia 7 tahun.
Ia rutin menjalani kontrol hingga harus meninggalkan aktivitas sekolah seperti anak-anak seusianya.
Ibunya yang berasal dari Sukabumi pun tetap setia mendampingi, meski hidup dalam keterbatasan.
Momen haru itu diunggah dalam kanal YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL pada 20 April 2026.
Dalam percakapan tersebut, Dedi mencoba menggali lebih dalam perjuangan Bagas dan keluarganya.
“Ini sudah berapa tahun,” tanya Dedi Mulyadi.
Sang ibu menjawab bahwa anaknya telah berjuang selama empat tahun. Ia juga mengungkapkan kondisi saat anaknya drop hingga harus tinggal lama di rumah sakit.
“Kalau lagi nge-dropnya di sini 2 bulan setengah dari sini, enggak pulang-pulang,” ucap ibunya.
Dedi kemudian menanyakan perkembangan kondisi penyakit tersebut.
“Ini sudah stadium 4, kata dokternya sekarang kankernya sudah membaik belum?” tanya Dedi Mulyadi.
Sang ibu hanya menggeleng.
“Belum, dokternya juga banggalah gitu ya,” jawabnya.
Meski begitu, Dedi tetap memberikan semangat kepada Bagas.
“Tapi intinya masih hebat ya. Kamu hebat loh, kanker stadium 4 masih weh keren banget kamu,” ucap Dedi Mulyadi.
Anak tersebut pun kembali menegaskan kekagumannya.
“Kan idolanya bapak,” ucap Bagas sambil menunjuk Dedi.
Rasa penasaran Dedi pun semakin besar. Ia bertanya apa yang membuat Bagas mampu bertahan di tengah kondisi yang berat.
“Apa yang membuat kamu bertahan? Yang lain tuh kalau dengar kanker stadium 4 sudah drop,” tanya Dedi Mulyadi.
Jawaban Bagas justru tak terduga dan sederhana.
“Makan,” ucap Bagas, yang langsung disambut tawa sang ibu.
Tak berhenti di situ, Dedi mencoba menggali keyakinan Bagas tentang kesembuhan.
“Kamu yakin bahwa kanker akan sembuh,” ujar Dedi sambil mengacungkan jempol.
Diketahui, Bagas telah menjalani berbagai upaya pengobatan sejak kecil. Sang ibu bahkan menyebut bahwa kini pengobatan lebih banyak dilakukan secara alternatif.
“Jadi gini, dokter juga kan sudah angkat tangan ya, soalnya udah nggak dikasih obat dari pertama juga. Cuman daun kelor, daun putih,” ucap sang ibu.
Dedi pun memberikan pandangannya tentang kekuatan mental dalam melawan penyakit.
“Tapi kanker itu pada akhirnya bisa sembuh kalau orangnya punya keyakinan, kerja keras, bahwa dia akan sembuh. Dia akan ketahanan tubuhnya sendiri. Imunnya akan tumbuh, ini imunnya kuat,” ujar Dedi Mulyadi.
Ia bahkan mengakui kekuatan mental Bagas jauh melampaui dirinya.
“Kamu lebih hebat dari saya mentalnya. Saya belum tentu punya mental kayak kamu,” ucap Dedi.
Saat ditanya kembali alasan dirinya begitu yakin bisa sembuh, Bagas menjawab dengan polos namun mengena.
“Ya saya napas, kalau enggak napas saya mati,” ucapnya, yang membuat sang ibu terkejut.
Di akhir percakapan, Dedi juga menanyakan kondisi tubuh Bagas setelah menjalani kemoterapi.
“Apa sih yang terasa sekarang badannya setelah kemoterapi?” tanya Dedi.
“Pas di awal-awal mah sakit, tapi pas di akhir ya enak,” ucap Bagas sambil mengacungkan jempol.
Kisah Bagas menjadi bukti bahwa di balik keterbatasan dan penyakit berat, masih ada harapan yang hidup dari keyakinan dan semangat. Pertemuan singkat ini pun meninggalkan kesan mendalam bagi Dedi Mulyadi dan siapa pun yang menyaksikannya.
(anf)
Load more