Blak-blakan ke Dedi Mulyadi, Pengacara Toni Beberkan Kejanggalan Kasus Pembunuhan Keluarga Haji Sahroni
- Kolase tvOnenews.com / YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL
tvOnenews.com - Dalam pertemuan langsung dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, kuasa hukum Ririn, Pengacara Toni, membeberkan satu per satu kejanggalan yang ia temukan selama mengikuti persidangan.
Lima jasad satu keluarga terkubur di halaman belakang rumah sendiri. Kasus pembunuhan keluarga Haji Sahroni di Indramayu yang mengguncang Jawa Barat kini menyimpan satu nama yang terus membayangi jalannya persidangan, yaitu Joko.
Kasus pembunuhan satu keluarga Haji Sahroni di Kelurahan Paoman, Indramayu, Jawa Barat merupakan tragedi keji yang terjadi pada akhir Agustus 2025. Jasad lima korban ditemukan terkubur bersama di halaman belakang rumah mereka pada 1 September 2025.
Hingga masa persidangan pada Mei 2026, kasus ini bergulir rumit dan memicu polemik hukum besar yang melibatkan perhatian langsung dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Dalam kunjungannya ke rumah Dedi Mulyadi yang kemudian diunggah di kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi, Pengacara Toni memaparkan secara gamblang kronologi peristiwa pembunuhan yang melibatkan beberapa pihak, termasuk Ririn dan Prio, serta sosok misterius bernama Joko.
Pengacara Toni menyampaikan kecurigaan utamanya: Joko bukan sekadar pihak yang mengetahui kasus ini, melainkan orang yang menggerakkan semua pihak dari balik layar, termasuk dengan menyamar sebagai korban bernama Budi melalui ponsel.
Dugaan ini didasari pada kejanggalan bahasa dalam pesan WhatsApp yang ditemukan dalam persidangan, serta fakta bahwa Joko diketahui memegang ponsel milik Budi.
"Saya menduga yang pura-pura jadi Budi itu Joko, Pak Gubernur," ujar Pengacara Toni.
"Oh gitu, Evan terkecoh," respons Dedi Mulyadi.
"Iya. Yang menjadi, yang pegang handphone-nya Budi itu, ya saya menduga Joko," tegas Pengacara Toni.
Toni kemudian menjelaskan dasar kecurigaannya secara lebih rinci berdasarkan fakta-fakta yang ia amati langsung di persidangan.
"Nah, di persidangan saya amati tuh Pak Gubernur. WA handphone Evan disita. WA-nya masih ada dari WA yang namanya Budi. Beda bahasanya. Tapi intinya dia percayalah, ya sudah kan. Tapi saya melihatnya dari fakta-fakta persidangan, ada kejanggalan bahwa itu adalah Budi. Tapi apa pun itu, saya tidak menyalahkan Evan, SDM berbeda ya Pak Gubernur. Nah, tapi saya melihatnya, maksudnya ada orang lain yang menggerakkannya itu," papar Pengacara Toni.
Kejanggalan tidak berhenti di situ. Toni mengungkapkan fakta mengejutkan lainnya: Joko diketahui menguasai KTP asli milik Budi, yang kemudian diserahkan kepada Ririn untuk keperluan check-in di penginapan.
"Joko mengeluarkan KTP-nya Budi, dikasih ke Ririn," ungkap Pengacara Toni.
"Copy-nya?" tanya Dedi Mulyadi.
"Asli," jawab Pengacara Toni.
Dedi Mulyadi langsung menarik kesimpulan dari keterangan tersebut.
"Berarti KTP Budi itu dikuasai Joko," kata Dedi Mulyadi.
Toni meyakini Joko adalah sosok yang menggerakkan Evan, Ririn, dan Prio. Joko diduga memberikan serangkaian instruksi kepada Prio, mulai dari mengambil koper di rumah Budi hingga melakukan transaksi melalui aplikasi Dana.
Yang paling mengejutkan, Toni menyebutkan bahwa Joko sempat memerintahkan Prio untuk membunuh Ririn karena dianggap terlalu banyak bertanya mengenai kasus tersebut.
"Di situ Joko ngomong ke Priyo, 'Ririn tuh banyak nanya katanya. Kata Pak Aman Yani, bunuh aja katanya.' Itu Pak Joko menyampaikan kepada Priyo," ungkap Pengacara Toni.
Joko juga dicurigai sebagai sosok di balik perintah membuang ponsel inventaris terakhir yang digunakan untuk berkomunikasi sebelum mereka pergi ke mes nelayan. Instruksi itu disampaikan melalui telepon saat Priyo berada di tengah perjalanan.
"Di pertengahan Sidoarjo, Priyo ditelepon lagi oleh Joko. Suruh buang tuh Pak handphone inventaris terakhir. Priyo buang," jelas Pengacara Toni.
Serangkaian pengungkapan ini semakin memperkuat dugaan bahwa ada sosok pengendali yang belum sepenuhnya tersentuh hukum dalam kasus pembunuhan keluarga Haji Sahroni.
Kunjungan Pengacara Toni ke rumah Dedi Mulyadi menjadi salah satu momen penting yang membawa perhatian publik lebih luas terhadap kejanggalan-kejanggalan yang selama ini luput dari sorotan.
(anf)
Load more