Mengenal Olahraga HYROX yang Viral karena Ada Atlet yang Tak Bisa Tahan BAB saat Lomba di Beijing
- Pexels/Karen Irala
tvOnenews.com - Olahraga HYROX belakangan menjadi perbincangan setelah sebuah insiden tak biasa terjadi dalam ajang HYROX Beijing 2026.
Atlet elit Joanna Wietrzyk dilaporkan mengalami kondisi ketika tidak mampu menahan buang air besar atau BAB saat perlombaan berlangsung.
Wietrzyk disebut mengalami encopresis atau inkontinensia feses, yakni kondisi ketika seseorang tidak sengaja mengeluarkan feses. Meski mengalami kejadian tersebut, sang atlet tetap melanjutkan perlombaan hingga selesai.
Keputusan tersebut kemudian menuai kritik karena adanya kekhawatiran mengenai potensi kontaminasi di area pertandingan dan peralatan yang digunakan peserta lain.
Penyelenggara HYROX kemudian mengonfirmasi bahwa peralatan yang terdampak telah disingkirkan.
Area lintasan yang terkena dampak juga ditutup untuk menjalani proses sanitasi, termasuk penggantian karpet dan pembersihan menyeluruh.
Insiden tersebut membuat nama HYROX semakin ramai diperbincangkan. Lantas, sebenarnya olahraga seperti apa HYROX dan mengapa kompetisi ini bisa menguras fisik peserta?
- Instagram/@joannawietrzyk
Apa Itu Olahraga HYROX?
HYROX merupakan kompetisi kebugaran indoor yang memadukan olahraga lari dengan berbagai latihan fungsional berintensitas tinggi.
Format perlombaannya cukup unik. Peserta harus berlari sejauh 1 kilometer, kemudian menyelesaikan satu stasiun latihan fungsional. Rangkaian tersebut dilakukan berulang hingga delapan kali.
Dengan demikian, dalam satu perlombaan peserta akan menempuh total 8 kilometer lari sekaligus menyelesaikan 8 stasiun latihan fungsional.
Beberapa jenis latihan yang terdapat dalam HYROX antara lain SkiErg, Sled Push, Sled Pull, Burpee Broad Jumps, Rowing, Farmers Carry, Sandbag Lunges, hingga Wall Balls.
Kombinasi tersebut membuat HYROX tidak hanya mengandalkan kemampuan berlari. Peserta juga membutuhkan kekuatan otot, daya tahan tubuh, kemampuan menjaga ritme, serta kondisi fisik yang terlatih.
HYROX Bukan Sekadar Lari dan Angkat Beban
Mengenai olahraga HYROX pernah dijelaskan oleh dr. Vito dalam kanal YouTubenya, DRV CHANNEL. Menurutnya, HYROX menilai olahraga ini membutuhkan persiapan yang tidak singkat.
Seseorang yang ingin mengikuti HYROX sebaiknya tidak hanya mengejar target untuk sekadar menyelesaikan perlombaan. Persiapan yang dilakukan harus mempertimbangkan kemampuan tubuh dan dilakukan secara konsisten.
Latihan selama beberapa minggu secara sporadis tentu berbeda dengan latihan rutin dua hingga tiga kali dalam sepekan yang dilakukan secara terstruktur.
Hal tersebut penting karena HYROX memadukan ketahanan kardio dan kekuatan otot dalam intensitas tinggi. Tubuh dipaksa untuk terus bekerja setelah berlari, kemudian kembali melakukan aktivitas yang membutuhkan tenaga besar.
Karena itu, latihan yang terlalu singkat demi mengejar tren atau sekadar ikut-ikutan justru berpotensi meningkatkan risiko cedera.
- REUTERS/Maxim Shemetov
Sehat Belum Tentu Sama dengan Bugar
Salah satu hal penting yang disoroti dokter adalah perbedaan antara sehat dan bugar.
Secara sederhana, orang yang sehat belum tentu memiliki kemampuan fisik untuk menjalani aktivitas dengan intensitas tinggi.
Sementara itu, kebugaran menggambarkan kemampuan tubuh untuk melakukan aktivitas fisik dengan kapasitas yang lebih besar.
Seseorang mungkin terlihat sehat dan tidak memiliki keluhan sehari-hari, tetapi belum tentu siap mengikuti perlombaan seperti HYROX.
Terlebih, kemampuan menyelesaikan HYROX juga tidak otomatis berarti kondisi jantung seseorang benar-benar normal.
Dokter Vito menjelaskan bahwa seseorang dengan kondisi jantung tertentu masih mungkin memiliki kemampuan fisik yang cukup untuk menyelesaikan aktivitas berat.
Karena itu, kemampuan menyelesaikan perlombaan tidak bisa dijadikan satu-satunya patokan untuk menilai kondisi jantung.
Penting Mengecek Kondisi Tubuh Sebelum Ikut HYROX
Bagi orang yang ingin mencoba HYROX, persiapan fisik menjadi bagian penting yang tidak boleh diabaikan.
Terlebih bagi seseorang yang sebelumnya jarang melakukan olahraga intensitas tinggi, latihan sebaiknya dilakukan secara bertahap dan terstruktur.
Dokter Vito juga mengingatkan pentingnya mengetahui kondisi tubuh sebelum meningkatkan intensitas latihan. Pemeriksaan kesehatan, termasuk pemeriksaan jantung, dapat dipertimbangkan sesuai kondisi dan indikasi masing-masing orang.
Pemeriksaan seperti treadmill test atau ekokardiografi dapat dilakukan berdasarkan penilaian tenaga medis. Pemeriksaan lebih lanjut juga bisa diperlukan jika seseorang memiliki faktor risiko atau kecurigaan terhadap masalah tertentu.
Dengan mengetahui kondisi tubuh sejak awal, seseorang dapat menentukan bentuk latihan yang lebih sesuai dan aman.
Jangan Ikut HYROX Hanya karena FOMO
Popularitas HYROX sebenarnya bisa menjadi momentum positif untuk mendorong lebih banyak orang menjalani gaya hidup aktif.
Namun, dr. Vito mengingatkan agar tren tersebut tidak membuat seseorang terburu-buru mengikuti kompetisi tanpa persiapan.
Apalagi jika seseorang baru mulai berolahraga beberapa minggu sebelum perlombaan dan langsung memaksakan diri mengejar target finish.
Selain persoalan jantung, kurangnya persiapan juga dapat meningkatkan risiko cedera karena tubuh belum terbiasa menerima beban latihan yang tinggi.
Karena itu, mengikuti HYROX sebaiknya bukan sekadar karena FOMO melihat orang lain ikut bertanding.
Momentum tersebut justru bisa dimanfaatkan untuk mulai membangun kebiasaan hidup sehat secara konsisten, mulai dari olahraga, pola makan, tidur, hingga menjaga kondisi tubuh. (gwn)
Load more