Bukan Cuma Tayangkan Drama Korea, Kini Kontennya Mulai Dibuat Versi Indonesia
- Gambar ilustrasi AI / Gemini
tvOnenews.com - Drama Korea tidak lagi sekadar menjadi tontonan impor yang memenuhi berbagai layanan streaming di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, popularitas konten Korea justru berkembang menjadi bagian dari kebiasaan konsumsi hiburan masyarakat Indonesia, terutama melalui platform digital dan OTT.
Data JakPat menunjukkan kuatnya minat tersebut. Dalam survei April 2025, sebanyak 51 persen dari 1.211 responden mengaku menyukai drama Korea. Dari kelompok tersebut, 82 persen menyebut cerita yang menarik sebagai alasan utama mereka menonton. Faktor karakter, aktor atau aktris, hingga relevansi cerita juga menjadi pertimbangan penonton.
Tren itu kembali terlihat dalam survei berbeda pada Mei-Juni 2025. Dari responden pengguna OTT, 69 persen menyatakan menyukai film atau serial asal Korea Selatan. Bahkan, berdasarkan survei JakPat pada akhir 2025, produksi Korea Selatan menjadi negara asal film dan serial yang paling banyak ditonton responden Indonesia dengan angka 64 persen.
Besarnya animo tersebut kini membuka tahap baru. Indonesia tidak hanya diposisikan sebagai pasar penonton konten Korea, tetapi juga mulai menjadi tempat untuk mengolah kembali kekayaan intelektual Korea menjadi tontonan yang menggunakan bahasa, pemain, serta konteks cerita Indonesia.
Dari Penonton Drakor ke Pasar Remake Lokal
Fenomena adaptasi semacam ini sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru di Indonesia. Pada September 2026, drama Korea “Descendants of the Sun” juga diberitakan akan diadaptasi menjadi film Indonesia oleh sutradara Hanung Bramantyo. Versi tersebut disebut sebagai adaptasi bebas yang disesuaikan dengan konteks lokal, bukan sekadar memindahkan cerita 16 episode secara mentah ke format film.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa hubungan industri hiburan Indonesia dan Korea mulai bergerak dari pola distribusi menuju pengembangan konten.
Perubahan tersebut terlihat dalam kerja sama terbaru antara perusahaan hiburan Indonesia, MD Entertainment, dan SBS Co., Ltd. Kedua pihak menandatangani nota kesepahaman kerja sama strategis di bidang konten dan media di Jakarta pada 29 September 2026.
Kesepakatan tersebut tidak berhenti pada rencana menghadirkan program-program populer SBS kepada penonton Indonesia melalui MDTV. Salah satu bagian pentingnya adalah pengembangan remake berbahasa Indonesia yang bersumber dari perpustakaan konten SBS.
Artinya, model kerja sama yang dibangun memiliki dua arah. Konten Korea tetap dapat diperkenalkan kepada penonton Indonesia dalam bentuk aslinya, tetapi pada saat yang sama sejumlah ide dan kekayaan intelektual dari Korea dapat diolah kembali agar sesuai dengan karakter pasar lokal.
Ketika IP Korea Bertemu Selera Penonton Indonesia
Potensi pasar menjadi salah satu alasan mengapa model kerja sama seperti ini menarik. Indonesia memiliki basis penonton yang besar sekaligus pasar OTT yang terus berkembang. Survei JakPat pada akhir 2025 mencatat film menjadi jenis konten yang paling banyak ditonton melalui layanan streaming, mencapai 74 persen responden, sementara serial berada di angka 53 persen.
Di sisi lain, laporan Katadata yang mengutip data Media Partners Asia menunjukkan konten lokal Indonesia pada kuartal IV 2025 mulai berada pada tingkat penonton yang setara dengan drama Korea di layanan streaming premium, masing-masing sekitar 30 persen dari total penonton.
Dua perkembangan ini memberikan konteks penting. Penonton Indonesia memiliki ketertarikan kuat terhadap konten Korea, tetapi pada saat bersamaan produksi lokal juga memiliki ruang yang semakin besar. Remake dapat menjadi salah satu titik temu di antara keduanya: menggunakan IP yang sudah memiliki basis pengenalan, tetapi menghadirkannya melalui bahasa dan pendekatan yang lebih dekat dengan penonton Indonesia.
Dalam kerja sama tersebut, pengembangan bisnis juga tidak hanya diarahkan pada serial atau program televisi. Kedua perusahaan membuka kemungkinan ekspansi ke periklanan, pemasaran merek, pertunjukan langsung, serta bisnis lain yang memanfaatkan kekayaan intelektual bersama.
Hubungan ini juga memiliki latar belakang investasi. Pada 2025, SBS menginvestasikan sekitar US$20 juta melalui aksi korporasi perusahaan Indonesia tersebut. ANTARA melaporkan investasi itu sebagai bagian dari strategi SBS memperkuat kemitraan internasional dan membangun basis di pasar konten Asia Tenggara.
Dari Investasi US$20 Juta ke Produksi Konten Lokal
Investasi tersebut sejak awal didorong oleh potensi pertumbuhan pasar konten Asia Tenggara, kapabilitas bisnis mitra di Indonesia, serta peluang sinergi kedua perusahaan.
“Investasi strategis SBS di MD Entertainment tahun lalu didorong oleh keyakinan kuat kami terhadap potensi pertumbuhan pasar konten Asia Tenggara, kapabilitas bisnis, serta sinergi yang dapat diciptakan oleh kedua perusahaan. MOU ini menjadi titik awal penting untuk mewujudkan investasi strategis tahun lalu menjadi hasil bisnis yang nyata dan membangun pertumbuhan jangka panjang,” ujar CEO Studio S Hong Sung-Chang, yang mewakili Presiden SBS Bang Moon-shin.
Sementara itu, Manoj Punjabi mengatakan kerja sama tersebut mempertemukan kekuatan konten SBS dengan kemampuan produksi dan pasar Indonesia.
“Kami menggabungkan apa yang terbaik dari masing-masing pihak: konten kelas dunia milik SBS, dan kekuatan di pasar Indonesia. Investasi SBS kepada kami tahun lalu mencerminkan keyakinan yang nyata terhadap apa yang telah kami bangun, dan MOU ini adalah langkah kami mengubah keyakinan tersebut menjadi aksi nyata bersama, menandai dimulainya kemitraan yang kami harapkan dapat tumbuh jauh melampaui Asia Tenggara,” ujar Manoj.
Dengan demikian, inti dari SBS Deepen Strategic Partnership bukan semata-mata memperbanyak drama Korea yang bisa ditonton di Indonesia. Tahap yang lebih menarik justru terletak pada kemungkinan lahirnya konten baru dari IP Korea yang diproduksi ulang dalam bahasa dan konteks Indonesia.
Jika tren penonton Korea di Indonesia terus bertemu dengan kemampuan produksi lokal, hubungan kedua industri tersebut berpotensi berkembang dari hubungan antara produsen dan konsumen menjadi kolaborasi kreatif. Indonesia bukan hanya menjadi tempat bagi konten Korea untuk mencari penonton, tetapi juga ruang untuk mengubah konten tersebut menjadi cerita baru yang ditujukan kepada penonton lokal. (udn)
Load more