Mengenal Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf, Penceramah yang Viral Berujung Diboikot MUI
- Istimewa
"Sodare-sodare, jangan undang lagi dan tak usah diikuti majelisnya orang model gini ya," tulis Cholil Nafis dalam akun X pribadinya pada Minggu (18/10/2026).
Ia juga menekankan bahwa, status maupun latar belakang seseorang tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan etika ketika menyampaikan pesan keagamaan. Baginya, seorang penceramah semestinya menjaga tutur kata dan memberikan teladan yang baik kepada jamaah.
"Seperti ceramahnya asli ini. Begini ini mau apapun statusnya tak layak menjadi penceramah. Bikin rusak agama dan manusia dengan ceramah model gini. Boro-boro menyebarkan Islam, malah ini yang merusak Islam," tegas Rais Syuriah PBNU itu.
Kemenag Ingatkan Etika Berdakwah
Ceramah tersebut juga menuai reaksi dari Kementerian Agama (Kemenag) melalui Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag Thobib Al Asyhar pada Rabu (21/10/2026).
"Dalam agama Islam itu, selain berfungsi menyampaikan pesan keagamaan, dakwah menyampaikan keteladanan lewat tutur kata dan perilaku. Rasulullah SAW adalah rujukan agung bagaimana dakwah Islam dijalankan," ujar Thobib Al Asyhar.
Ia yang mewakili Kemenag mengingatkan setiap dai maupun penceramah agar selalu menjaga etika, termasuk saat menyampaikan materi ceramah. Kegiatan tersebut tidak seharusnya merendahkan atau melukai martabat perempuan dan kelompok lansia.
"Untuk itu, setiap penceramah atau dai yang berbicara di ruang publik hendaknya senantiasa menjaga etika dalam menyampaikan materi ceramah, termasuk dalam gaya humor agar tidak merendahkan atau melukai martabat orang lain," pungkasnya.
(hap)
Load more