4 Puisi Chairil Anwar untuk Momen Hari Sumpah Pemuda 2026, Penuh Semangat Perjuangan
- Ilustrasi AI/ChatGPT
tvOnenews.com - Hari Sumpah Pemuda menjadi momentum penting untuk mengenang perjuangan generasi muda dalam memperjuangkan persatuan dan kemerdekaan Indonesia.
Peringatan yang jatuh setiap 28 Oktober ini juga dapat menjadi kesempatan untuk menumbuhkan kembali semangat nasionalisme melalui berbagai cara, salah satunya dengan membaca puisi bertema perjuangan.
Salah satu penyair Indonesia yang karyanya kerap dikaitkan dengan semangat perjuangan adalah Chairil Anwar.
Penyair yang dikenal sebagai pelopor Angkatan '45 ini melahirkan sejumlah karya yang menggambarkan keberanian, semangat hidup, dan kegigihan dalam menghadapi tantangan.
Puisi-puisinya dapat menjadi bahan refleksi bagi generasi muda untuk memahami arti perjuangan, menghargai pengorbanan para pahlawan, serta meneruskan cita-cita bangsa.
Berikut empat puisi Chairil Anwar yang dapat menjadi referensi untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda.
- Pexels/Irgi Nur Fadil
1. Aku
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi.
2. Diponegoro
Di masa pembangunan ini
Tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak getar. Lawan banyaknya serratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu negeri
Menyediakan api.
Punah di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang
3. Karawang-Bekasi
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
4. Persetujuan dengan Bung Karno
Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut
Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh
(gwn)
Load more