Kok Bisa AI Membutuhkan Banyak Air? Begini Penjelasan Ilmiahnya
- Dibuat oleh ChatGPT
tvOnenews.com - AI (artificial intelligence) tidak hanya membutuhkan listrik untuk menjalankan proses komputasi, tetapi juga air untuk membantu mendinginkan pusat data atau data center. Lantas, benarkah AI membutuhkan banyak air setiap kali menjawab pertanyaan pengguna? Penjelasan ilmiah mengenai AI Membutuhkan Banyak Air ini disampaikan oleh Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, M.Sc.
Melalui unggahan Reels Instagram pada 23 September 2026, Prof. Zulys menjelaskan bahwa penggunaan AI berkaitan dengan kebutuhan air untuk sistem pendinginan di pusat data. Air tersebut bukan untuk dikonsumsi, melainkan membantu menjaga suhu perangkat agar tetap stabil selama beroperasi.
“menggunakan ai akan mengurangi air minum kita? betul, data center AI butuh air bersih tapi bukan untuk diminum melainkan untuk mendinginkan agar otaknya tidak kepanasan,” ucap Prof. Zulys dalam unggahan Reels Instagramnya 23 September 2026.
Mengapa AI Membutuhkan Banyak Air?
Setiap kali seseorang mengajukan pertanyaan kepada AI, ada proses komputasi yang berlangsung di pusat data. Ribuan chip bekerja memproses informasi untuk menghasilkan jawaban dalam waktu singkat.
Proses tersebut membutuhkan listrik dan menghasilkan panas. Karena itu, pusat data memerlukan sistem pendinginan agar perangkat tidak mengalami panas berlebih yang dapat mengganggu kinerjanya.
Prof. Zulys menjelaskan bahwa proses kerja AI melibatkan banyak chip yang menjalankan operasi komputasi dalam jumlah besar.
“Ketika kita bertanya kepada AI, jawaban yang muncul dalam beberapa detik itu sebenarnya dikerjakan ribuan otak atau chip di data center,” ujar Prof. Zulys.
Ia kemudian mengibaratkan proses tersebut seperti mahasiswa yang harus berpikir keras ketika menghadapi ujian. Semakin berat pekerjaan yang dilakukan, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga kondisi perangkat agar tidak mengalami panas berlebih.
“Chip melakukan miliaran operasi. Itu membutuhkan listrik, menghasilkan panas. Jadi, gampangnya AI itu seperti mahasiswa yang mau ujian. Makin berat mikirnya, makin keras kepalanya. Kalau tidak segera didinginkan, mesin data bisa rusak. Prosesnya menggunakan air,” jelasnya.
Meski demikian, tidak semua pusat data menggunakan air dengan cara yang sama. Besarnya kebutuhan air bergantung pada teknologi pendinginan, kondisi operasional, serta sumber energi yang digunakan.
Berapa Banyak Air yang Dibutuhkan AI?
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah besarnya kebutuhan air untuk mendukung operasional pusat data, terutama ketika layanan AI digunakan oleh jutaan orang setiap hari.
Menurut Prof. Zulys, air memiliki kemampuan menyerap panas yang tinggi sehingga dapat dimanfaatkan dalam sistem pendinginan. Namun, kualitas air juga perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan masalah pada perangkat dan sistem yang digunakan.
“Kenapa air? Air sebagai materi menakjubkan yang mempunyai kapasitas panas tinggi. Tapi, air ini bukan sembarang air, harus air yang bersih, bukan dari sungai, danau, atau laut karena air tersebut bisa merusak chip. Studi dari UC Riverside dan Colorado memperkirakan model AI seperti GPT-3 minum sekitar 500 ml air untuk 50ml respons,” ungkap Prof. Zulys.
Jika mengacu pada perkiraan tersebut, kebutuhan airnya setara dengan sekitar 10 mililiter per respons, bukan 50 mililiter seperti yang disebutkan dalam bagian lain dari penjelasannya.
Ia juga menyoroti besarnya kebutuhan air apabila penggunaan AI terus meningkat dan melibatkan banyak pengguna dalam waktu bersamaan.
“Kira-kira 50 ml air per satu jawaban. Tapi, kalau yang pakai ribuan orang, skalanya jadi bikin kaget. Satu data center 100 megawatt dapat menggunakan sekitar 2.000.000 liter air sehari, setara kebutuhan 6.500 rumah tangga,” kata Prof. Zulys.
Angka tersebut perlu dipahami sebagai perkiraan yang bergantung pada asumsi dan kondisi operasional pusat data. Kebutuhan air tidak selalu sama untuk setiap model AI maupun setiap pertanyaan yang diajukan pengguna.
Selain itu, penggunaan air di pusat data tidak berarti seluruh air tersebut langsung habis diminum atau digunakan oleh chip. Air dapat digunakan dalam sistem pendinginan dengan mekanisme yang berbeda, termasuk sistem yang memungkinkan air digunakan kembali.
Bagaimana Cara Mengurangi Penggunaan Air untuk AI?
Meningkatnya penggunaan AI tidak serta-merta berarti masyarakat harus berhenti memanfaatkan teknologi tersebut. Namun, pengelolaan pusat data perlu mempertimbangkan efisiensi penggunaan air, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan sumber daya air.
Prof. Zulys menyebut beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak penggunaan air dalam operasional pusat data.
“Terus bagaimana solusinya? Bukan berhenti memakai AI. Buat metode siklus pendinginan tertutup, air daur ulang, dan bangun data center di lokasi yang daya dukung airnya memadai, jangan di lingkungan penduduk, terjadi persaingan konsumsi air,” jelasnya.
Sistem pendinginan tertutup dan penggunaan air daur ulang dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan efisiensi. Pemilihan lokasi pusat data juga penting agar kebutuhan operasionalnya tidak menambah tekanan terhadap ketersediaan air bagi masyarakat sekitar.
Di sisi pengguna, kebiasaan menggunakan AI secara lebih bijak juga dapat membantu menghindari proses komputasi yang tidak diperlukan.
“Sebagai user, kita bisa membantu meningkatkan efisiensi pemakaian air pendingin dengan cara, yaitu kurangi query pada prompt yang tidak perlu. Gunakan AI sesuai dengan beban kerjanya, jangan semua pekerjaan kita minta bantuan AI. Kalau bisa kita kerjakan sendiri aja,” tutur Prof. Zulys.
Pengguna dapat memanfaatkan AI untuk pekerjaan yang memang membutuhkan bantuan teknologi tersebut. Sementara itu, pekerjaan sederhana yang bisa diselesaikan sendiri tidak harus selalu dialihkan kepada AI.
Manusia Tidak Bisa Hidup Tanpa Air
Perkembangan AI memberikan banyak kemudahan, mulai dari mencari informasi hingga membantu menyelesaikan pekerjaan. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada kebutuhan infrastruktur yang perlu diperhitungkan, termasuk konsumsi listrik dan air.
Karena itu, pemanfaatan AI perlu diimbangi dengan upaya menjaga sumber daya alam. Pengembangan teknologi yang lebih efisien menjadi penting agar manfaat AI dapat terus dirasakan tanpa mengabaikan kebutuhan air bagi manusia dan lingkungan.
Prof. Zulys mengingatkan bahwa manusia tidak harus selalu bergantung pada teknologi dalam setiap aktivitasnya.
“Toh kita masih bisa hidup tanpa AI, tapi manusia tidak bisa hidup tanpa air. Sehebat-hebatnya teknologi manusia tetap ada batasnya dan batas itu mengingatkan kita bahwa manusia bukan penguasa alam. Kita hanya diberi amanah untuk mengelolanya,” pungkas Prof. Zulys.
(anf)
Load more