Memangnya Boleh Makan dan Minum Setelah Imsak? Gus Baha Mewanti-wanti Hukumnya kalau di Wilayah Indonesia
- Tangkapan layar YouTube Cak Kliwon
tvOnenews.com - Imsak menandakan waktu umat Muslim setidaknya menahan diri untuk makan dan minum.
Setiap ingin puasa, umat Muslim melaksanakan sahur. Artinya, mereka makan dan minum sebelum waktu imsak tiba.
Nahasnya, tidak sedikit dari mereka terlalu asik makan dan minum saat sahur, tetapi tak sadar telah memasuki waktu imsak.
Selain keasikan sahur, kebanyakan orang mukmin makan dan minum setelah imsak akibat bangun tidur kesiangan.
Lantas, apa hukum makan dan minum setelah imsak hendak melaksanakan puasa? Gus Baha membandingkan hukumnya dari waktu puasa di wilayah Indonesia.
- iStockPhoto
Â
Dilansir tvOnenews.com dari kanal YouTube Sekolah Akhirat, Rabu (19/2/2025), Gus Baha mengupas tuntas hukum puasa dan imsak.
Imsak menjadi tantangan terberat bagi umat Muslim selama mengarungi bulan suci Ramadhan.
Pasalnya, imsak berfungsi sebagai waktu umat Muslim ancang-ancang melaksanakan puasa. Maksudnya, tanda mereka menahan makan dan minum setelah menjalani sahur.
Merujuk dari sejumlah kasus, umat Muslim selalu terlena menikmati hidangan makanan dan minuman, namun mereka tanpa memperdulikan waktu imsak.
Gus Baha mengatakan tidak sedikit dari mereka tak mengetahui apa arti imsak. Sebab, hanya memahami waktu Subuh adalah tanda berhentinya sahur dan tidak lagi dianjurkan untuk makan dan minum.
Secara gamblang menjelaskan dengan kelakarnya, Gus Baha mengambil jalan tengahnya dengan memaparkan kapan waktu imsak sebenarnya.
Ia membandingkan antara waktu imsak dan Subuh di wilayah Indonesia, berdasarkan jadwal yang ditetapkan oleh Kementerian Agama (Kemenag) RI.
Pendakwah bernama KH Ahmad Bahauddin Nursalim itu menegaskan waktu antara imsak dan Subuh memiliki nama tersendiri, yakni imtiyad.
Di waktu inilah, kata Gus Baha, sering menjadi permasalahan yang mempengaruhi ibadah puasanya.
"Ini seperti santri imsak. Imsak kurang empat menit masih menikmati rok*k, kurang satu menit masih boleh. Setelah diumumkan, oh itu ada waktu imtiyad antara waktu imsak dan Subuh," terangnya.
"Aku zaman ngaji falaq imtiyad itu berapa menit, lima menit, berarti masih. Aduh! Membunuh orang," sambung dia.
Pendakwah kondang asal Rembang ini menjelaskan banyak orang yang keliru terhadap waktu imtiyad, sebab mereka tidak mendalami keilmuannya tentang hal tersebut.
Menurut Gus Baha, orang yang tidak membekali ilmu seputar imsak dan puasa Ramadhan, rentan menimbulkan keraguan dalam dirinya selama berpuasa.
"Repot menghadapi santri semacam itu, dimarahi, anak pintar, sebab punya logika. Tapi dibiarkan berlebihan. Kalau yang khusyuk sudah jelas, jam tiga (dini hari) sikatan, Tahajud. Sudah pasti benar kalau ibadah," paparnya.
"Namun biasanya tidak terlalu mengetahui hukum. Kalau imtiyad itu boleh," tambahnya melanjutkan.
Murid kesayangannya Mbah Moen itu membicarakan hakikat yang terkandung dalam waktu imsak.
Secara umum, waktu Subuh tiba menandakan bahwa waktu sahur telah berakhir, sekaligus tidak boleh memasukkan apa pun lagi ke dalam mulut, termasuk makanan dan minuman.
Lantas, mengapa Indonesia selalu menyertakan dan membuat waktu imsak untuk yang berpuasa?
"Semisal imsak jam empat. Bunyi alarm jam empat itu, lantas hakikatnya imsak jam berapa? Jam empat lebih empat menit. Jam 4 lebih 4 menit masuk Subuh, sudah masuk sebenarnya, diimtiyadkan," tuturnya.
Gus Baha mengakhiri biasanya setelah waktu imsak tiba, diberikan beberapa menit untuk persiapan puasa. Artinya, memberikan alarm bahwa muadzin segera mengumandangkan adzan Subuh.
"Contohnya imsak itu jam 4, hakikatnya (di Indonesia), yang benar-benar imsak kan, jam 4 lebih 4 menit. Nah, mestinya kalau imsak habis, otomatis Subuh. Berarti hakikatnya jam 4 lebih 4 sudah Subuh," tandasnya.
(hap)
Load more