Tahlilan Menjadi Tradisi di Indonesia tapi Sahabat Nabi SAW Tak Pernah, Kenapa? Gus Baha Peringatkan Jangan Keliru
- Tangkapan layar YouTube Kurnia FM
Pola pikir seperti itu bisa mengambil kasus seorang murid telah ditinggalkan oleh guru tercintanya yang sudah wafat.
Menurutnya, tindakan seperti ini hanya memberikan adab yang kurang baik, apalagi kalau membentuk pola pikir dengan cara membanding-bandingkan kondisi zaman dahulu.
Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA itu menyayangkan jika ada pola pikir bahkan sampai terucap "andai dia baik, tambahkanlah kebaikannya" saat melakukan tahlilan.
"(Seharusnya murid berkata) 'dia orang baik, maka tambahkanlah kebaikannya," ucap dia.
Murid kesayangannya almarhum Mbah Moen itu menambahkan bahwa pola pikir yang keliru tersebut, seolah-olah meminta kepada mayit. Padahal orang meninggal dunia hanya tersisa jasadnya, itu pun harus segera dimakamkan.
"Ibaratnya, pertanyaannya seperti ini, lepas dari Anda kurang ajarlah, tapi ada kepastian bahwa ini tidak minta kepada mayit. Tuduhan bahwa kita minta kepada mayit itu salah, karena kita datang ke kuburan itu malah memintakan ampunan untuk mayit," paparnya.
Gus Baha menyarankan tidak perlu diperdebatkan soal hukum tahlilan. Tugas kita sebagai orang mukmin hanya mengikuti mazhab yang kebenarannya telah teruji.
Ia mengharapkan spekulasi tahlilan di kuburan, setidaknya tidak dianggap sebagai kafir, sebab kegiatan keagamaan ini meminta hajat agar kesalahan mayit di dunia diampuni oleh Allah SWT.
"Neg kangge guru nggeh dikurangilah (kalau untuk guru ya dikurangilah). Engkau Maha Pengampun, saya memohon guru saya ini, Engkau ampuni. Jadi, kalau dikuburan, jangan doa pakai doa yang ada dalam doa mayit," tandasnya.
(hap)
Load more