Utamakan Shalat Tarawih atau Kerja di Malam Hari Dulu saat Ramadhan? Gus Baha Ungkap yang Terbaiknya
- Instagram/@ngajionline_gusbaha
tvOnenews.com - Shalat Tarawih di tengah menjalankan kewajiban kerja untuk mencari nafkah di malam hari merupakan kesadaran. Bahwasanya kedua bagian ini adalah bagian bentuk ibadah.
KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha mempersilakan seorang jemaah bertanya. Pertanyaannya berkaitan saat dihadapi pilihan antara shalat Tarawih atau kerja di malam hari selama Ramadhan.
Gus Baha merespons sebenarnya kerja adalah kewajiban, sedangkan pelaksanaan shalat Tarawih hanya setahun sekali tepatnya di bulan Ramadhan.
"Jangan terlalu membesar-besarkan hal yang berpotensi membuat orang biasa jadi susah menjalankan syariat Islam," ujar Gus Baha dilansir tvOnenews.com dari channel YouTube Hikmah Takdir, Kamis (27/2/2025).
Tak sedikit orang mukmin sedang sibuk bekerja selalu mendapat kalimat pepatah yang berbunyi "Rugi, Ramadhan hanya setahun sekali, kok enggak shalat Tarawih berjamaah di masjid".
Menurutnya, pepatah tersebut mengundang kekeliruan, karena harus bisa membedakan keutamaannya, walaupun keduanya mengandung pahala dan memberikan keberkahan.
"Itu namanya tidak menghargai perasaan orang lain," tegas dia.
Kerja Merupakan Kewajiban
- Istockphoto
Namun untuk menjawabnya, Gus Baha menguraikan perbandingan dengan ukuran kewajiban, setidaknya pekerjaan berfungsi sebagai salah satu ibadah utama dalam urusan kebutuhan hidup.
"Jangan sampai jemaah kehilangan nafkah yang nantinya menyalahkan shalat," pesan Gus Baha.
Gus Baha menyebutkan pekerjaan menjadi salah satu yang ditekankan oleh Allah SWT. Jika tidak melakukannya, sama saja telah menunda proses mencari nafkah untuk kebutuhan sehari-harinya.
Shalatnya untuk meningkatkan iman dan takwa, tetapi pekerjaan juga salah satu cara bagaimana bisa mendapat aliran rezeki sesuai penjelasan dalam Surat Al Mulk Ayat 15, Allah SWT berfirman:
هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ
Artinya: "Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu dalam keadaan mudah dimanfaatkan. Maka, jelajahilah segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nya kamu (kembali setelah) dibangkitkan." (QS. Al Mulk, 67:15)
Shalat Tarawih Memang Menjadi Harapan di Ramadhan
- tvOnenews.com/Hilal Aulia Pasya
Gus Baha memahami betul shalat Tarawih tidak ingin disia-siakan mereka saat mendapat jadwal kerja di malam hari. Alih-alih, mereka mengutamakan pekerjaannya agar mempertahankan hidupnya.
"Mereka (sebenarnya) juga ingin Tarawih, namun apa daya mereka sedang bekerja," tutur dia.
Seseorang mendapat shift malam tidak menginginkan hidupnya dilanda kemiskinan, terutama harus mempunyai ekonomi yang cukup untuk menafkahi keluarganya.
"Menghindari diri dari kemiskinan secara ekonomi, supaya tidak menjadi beban orang lain, itu hal yang paling utama," ucapnya.
Shalat Tarawih Takut Menjadi Wajib
- iStockPhoto
Gus Baha mengambil penjelasan dari hadis riwayat, Rasulullah SAW memang sangat menyukai shalat Tarawih, namun beliau pernah mempercepat ibadah sunnah tersebut.
"Kanjeng Nabi itu sangat suka shalat (Tarawih). Suatu saat ketika Kanjeng Nabi mengimami shalat, beliau mendengar bayi menangis," katanya.
Dikutip dari laman Muslim.or.id, redaksi hadis riwayat Imam Al Bukhari dari Abdurrahman bin Abidin terkait Nabi SAW tak ingin shalat Tarawih terus-menerus, begini bunyinya:
خرجت مع عمر -رضي الله عنه- ليلة في رمضان إلى المسجد، فإذا الناس أوزاع متفرقون، يُصلي الرجل لنفسه، ويصلي الرجل فيصلي بصلاته الرهط، فقال عمر: إني أرى لو جمعت هؤلاء على قارئ واحد لكان أمثل، ثم عزم فجمعهم على أُبي بن كعب
Artinya: "Aku keluar bersama Umar radhiallahu’anhu pada suatu malam bulan Ramadan ke masjid. Ketika itu orang-orang di masjid shalat berkelompok-kelompok terpisah-pisah. Ada yang shalat sendiri-sendiri, ada juga yang membuat jamaah bersama beberapa orang. Umar berkata: ‘Menurutku jika aku satukan mereka ini untuk shalat bermakmum di belakang satu orang qari’ itu akan lebih baik’. Maka Umarpun bertekad untuk mewujudkannya, dan ia pun menyatukan orang-orang untuk shalat tarawih berjamaah bermakmum."
Pada suatu alkisah, Gus Baha juga pernah mendapat keluhan dari seorang kiai. Kebetulan sosok tersebut selalu menjadi imam shalat Tarawih berjamaah.
Kiai tersebut merasa heran shalat Tarawih yang dipimpinnya tidak selalu ramai. Dengan kelakarnya, Gus Baha menyebutkan bisa saja mereka sibuk berbaik kepada keluarganya dengan mencari nafkah.
Gus Baha menyarankan seorang kiai tersebut tidak perlu keheranan. Para jemaahnya sibuk bekerja karena berurusan dengan hidupnya.
"Jangan sampai orang-orang berpikir bahwa Islam itu hadir sebagai masalah," tandasnya.
Kesimpulan: Kerja di malam hari lebih utama daripada shalat Tarawih karena hukumnya adalah wajib, walaupun Tarawih juga penting menghidupkan malam-malam di bulan Ramadhan.
(hap)
Load more