THR dalam Islam: 7 Cara Bijak Mengelola Rezeki Lebaran
- dok.ilustrasi freepik
Jakarta, tvOnenews.com- Tunjangan hari raya (THR) identik dengan momen hari Raya Idul Fitri maupun Natal. Ini merupakan hak diterima oleh pekerja dari Perusahaan di tempat bekerja.
Secara umum THR dalam pandangan Islam termasuk rezeki yang didapatkan dari usaha kerja. Sebaiknya dikelola dengan bijak agar lebih berkah dan jangka panjang.

- dok.ilustrasi freepik
Sehubunngan dengan THR ini sudah diatur dalam aturan Pemerintah. Aturan yang mewajibkan diberlakukannya THR ini adalah Permenaker No. 6 Tahun 2016, Pasal 2, yang menyatakan bahwa pengusaha wajib memberi THR Keagamaan kepada pekerja telah memiliki masa kerja minimal 1 bulan atau lebih secara terus-menerus.
Diketahui, Kewajiban yang diatur dalam ketentuan peraturan ini tidak membedakan status pekerja apakah ia karyawan tetap, karyawan kontrak ataukah karyawan paruh waktu. Semuanya sama punya hak untuk mendapatkannya.
Budaya Pembagian THR dalam Perspektif Islam
Pembagian THR di Indonesia sudah menjadi budaya yang melekat tiap tahunnya. Hal ini ternyata, sudah diajarkan Agama Islam dalam konteks berbagi rezeki.
Melansir laman NU Online, Berbagi kebahagiaan kepada sesama manusia jelas merupakan amal yang sangat utama, sebagaimana hadist Nabi saw yang diriwayatkan oleh Sayyidina Umar bin Khatthab ra:
أفضل الأعمال إدخال السرور على المؤمن كسوت عورته وأشبعت جوعته أو قضيت له حاجة (رواه الطبراني)
Artinya, “Amalan paling utama adalah berbagi kebahagiaan kepada orang mukmin, engkau memberi pakaian untuk menutup auratnya, memberi makan atas kelaparannya, atau memenuhi hajatnya.” (HR At-Thabarani).
Berikut ini cara mengelola THR dalam Islam dirangkum dari berbagai sumber.
1. Mengutamakan Kewajiban yaitu Membayar Utang
Bagi umat muslim sudah seharusnya membayar utang terlebih dahulu, sebelum membagikan THR (rezeki) di momen Idul Fitri. Membayar utang suatu kewajiban yang harus diprioritaskan, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:
"Ruh seorang mukmin tergantung dengan hutangnya hingga dia melunasinya." (HR. Tirmidzi, Abu Daud, dan Ibnu Majah).
2. Mengeluarkan Zakat dan Sedekah
Sebelum melakukan THR kepada keluarga, ada baiknya membagi pengeluaran untuk zakat. Sebab itu kewajiban bagi umat Islam yang memiliki harta mencapai nisab.
Jika jumlah THR diterima menambah total kekayaan hingga mencapai nisab, maka wajib mengeluarkan zakat sebesar 2,5%. Selain zakat, umat Islam juga dianjurkan untuk bersedekah. Allah SWT berfirman:
"Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-Hasyr: 9)
Kemudian, sedekah dari sebagian THR tidak hanya membantu mereka yang membutuhkan, tetapi juga dapat membersihkan harta dan menjadikannya lebih berkah.
3. Mengalokasikan THR untuk Kebutuhan Hari Raya Secara Bijak
Mengingat hari raya lebaran jadi momen kebahagiaan bagi umat Islam, bukan berarti harus berlebihan dalam berbelanja. Sebab dalam Islam mengajarkan prinsip kesederhanaan dan melarang pemborosan.
Sebagaimana Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya." (QS. Al-Isra': 27)
4. Menabung dan Berinvestasi dalam Instrumen Syariah
Dalam mengelola THR dalam islam tidak harus habis dalam sekejap. Bisa saja dari dana dapat ditabung atau diinvestasikan untuk keperluan jangka panjang. Beberapa pilihan investasi yang sesuai dengan prinsip syariah antara lain:
- Tabungan syariah, yang bebas dari unsur riba.
- Investasi emas, yang nilainya relatif stabil.
- Reksa dana syariah, yang dikelola berdasarkan prinsip Islam.
- Deposito syariah, dengan sistem bagi hasil yang adil.
5. Menggunakan THR untuk Pendidikan dan Pengembangan Diri
Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang sangat dianjurkan dalam Islam. Menggunakan THR untuk biaya pendidikan, baik bagi diri sendiri maupun keluarga, merupakan langkah yang cerdas. Selain itu, THR juga bisa digunakan untuk membeli buku, mengikuti kursus, atau pelatihan yang dapat meningkatkan kualitas diri dan keterampilan.
6. Menyisihkan untuk Dana Darurat
Kondisi keuangan yang tidak menentu membuat setiap orang perlu memiliki dana darurat. Dana ini bisa digunakan untuk keperluan tak terduga seperti biaya kesehatan, perbaikan rumah, atau kehilangan pekerjaan. Menyisihkan sebagian THR untuk dana darurat merupakan bentuk perencanaan keuangan yang baik dan sesuai dengan prinsip kehati-hatian dalam Islam.
7. Memanfaatkan THR untuk Modal Usaha Halal dan Ibadah
Jadi saran THR bisa disisipkan untuk memulai usaha, THR bisa menjadi modal awal untuk membangun bisnis yang halal. Misalnya, usaha kuliner halal, fashion muslim, atau perdagangan lainnya yang sesuai dengan syariat Islam. Dengan memanfaatkan THR untuk usaha, kita bisa menciptakan sumber pendapatan tambahan.(klw).
Artikel ini sebagai referensi bacaan, semoga bermanfaat.
Load more